pria terkutuk

aku sangka makhluk-makhluk seperti itu sudah punah...
mmm, ternyata masih ada juga yaah...

makhluk tak tahu diri, yang menebar pesona dimana-mana dan  mengincar korban perempuan untuk jatuh ke pelukannya...

fiuuuh, ternyata mereka masih hidup dan berkeliaraan...

sialan!

aku sangka mereka sudah punah, menyerah pada perempuan-perempuan cerdas masa kini yang sudah canggih dan memiliki banyak pilihan.

mereka masih ada! hidup dan masih merayu setiap makhluk berputing susu...
entah ini merekanya yang terlalu canggih, atau ternyata perempuan perempuan nya yang tidak sepintar yang kukira...

Fiuuuh...

hayolah teman perempuanku, buktikan kalau kita lebih dari makhluk yang tak bermoral ituu...
jangan bersedih, mereka jelas tidak berhak atas air mata ini..
percayalah, sebenarnya kita juga bisa melakukan apa yang mereka lakukan, bahkan dengan cara yang lebih dashyat...
tapi itulah yang membedakan kita dengan mereka, bedanya antaranya makhluk yang berperasaan dan makhluk yang tidak...

terkutuklah kamu!

                            

senyum tanpa keluh

saya tidak mengenalnya.
baru tiga kali saya melihatnya.
tapi saya penasaran dengan senyumnya.

senyum yang diumbar dengan penuh keluguan dan ketulusan.
"es teh yah mba,"
"iyah mas, tapi gulanya dikit ajah,"

dan lagi-lagi dia tersenyum. sebelum akhirnya sibuk di tumpukan geleas-gelas

aaargh, tidak kuat diri saya..tiba-tiba saya menjadi malu saat itu. malu karena terlalu banyak mengeluh.

mengeluh capek. mengeluh pekerjaan. mengeluh waktu yang tak pernah cukup

saya kalah mas --- yang saya pun tidak tahu namanya
ajari saya senyummu...

iyah saya menyerah kalah dengan senyuman

saya tahu kenapa

semua terjadi karena sebuah alasan, semua ada karena ada tujuannya.
Meski terkadang kita manusia susah untuk mengerti hal itu, tapi saya percaya bahwa memang sesuatu hadir, ada dan terjadi karena ada maksudnya. Dan saya juga percaya bahwa itu pasti untuk maksud yang baik...

Kenapa saya harus pergi ke Shanghai tahun lalu?
Kenapa saya harus tersesat hampir 15 km jauhnya untuk dapat kembali ke hotel?
Kenapa saya harus terus-terusan ditolak oleh supir-supir taksi disana?

Saya tahu jawabannya sekarang, agar ketika saya kembali ke negeri itu, saya akan lebih siap

Dan saya dapat kesempatan itu minggu lalu,

pergi ke Beijing minggu lalu seorang diri dari Indonesia memang mengharuskan saya mempersiapkan diri sebaik mungkin...

mulai dari pakaian sama makanan, iyah untuk pertama kalinya saya membawa bekal untuk perjalanan keluar negeri...uugh, saya harus, karena saya tahu makanan disana tidak enak.

Berangkat dengan penerbangan malam, saya pun tiba di Beijing Capital airport pagi hari..fiuh, dan benar dugaan saya, tidak ada yang menjemput...
untung saja, dengan pengalamanan tahun lalu, saya langsung tahu yang saya lakukan..saya mengambil kertas dan pulpen dari tas saya dan segera menghampiri orang di information desk untuk membatu saya menuliskan nama hotel yang saya tuju dalam bahasa china...
dan dengan kertas itu, saya berhasil mendapatkan taksi (saya senang bukan kepalang, sebuah prestasi pagi hari..hihihihihi)

sesampainya hotel,   setelah mandi dan bebenah sedikit, saya pun memutuskan untuk jalan-jalan, karena tidak tidak, saya tidak akan datang ke negeri orang hanya untuk tidur...hehehe
jadi saya nekat untuk jalan-jalan, meski badan belum beristirahat...

Beda dengan kunjungan sebelumnya, dimana saya ditemani dua orang teman jurnalis, kali ini saya harus pergi sendirian..dan itu bukan masalah lagi kali ini...setelah browsing beberapa kali, saya tahu tempat yang bisa dikunjungi dan paling dekat dari hotel yaitu Tian'namen square dan Forbidden City...tapi untuk memastikan saya, yang punya navigasi buruk ini dapat pulang dengan selamat, saya pun datang ke meja concierge untuk meminta mereka menuliskan dua tempat tujuan saya dalam bahasa cina di sebuah kartu

berkat kartu itu, saya pun leluasa menanyakan kepada siapa pun tujuan arah yang benar. yaaah, tentu saja sesekali dibantu dengan gestur-gestur tubuh...

beberapa perempatan pun bisa saya lalui dengan aman, karena saya pasti berhenti untu bertanya kepada polisi sambil menunjukkan kartu itu.

Dan saya berhasil sampai sana, dan pulang dengan selamat ke hotel

aaaah...malam itu saya tidur nyenyak sekali.



Ciledug-Cinangka-Kuningan..

Pagi yang bodoh.

Aku baru sadar bahwa pasporku ketinggalan di rumahsenyumpagi, padahal pagi itu aku berada di rumah bapak ibu di Ciledug, karena malam sebelumnya aku dan kelik memutuskan menginap disana supaya besok paginya bisa berangkat pagi-pagi untuk mengurus visa di kedutaan.

panik panik panik.

dan ojek cinta pun berkeberatan untuk mengantarkanku karena proyek iklannya yang dikejar deadline.

Dan harapanku cuma kamu: abang-abang ojek.

mmm...lalu terbayang di otakku, berapa yah ongkosnya untuk perjalanan dari Ciledug-Cinangka-Kuningan...Rp 50,000, Rp 70,000...mmm ga kebayang.

tapi aku ga punya pilihan.

Berapapun pasti aku bayar, karena aku dikejar waktuu...

berpikir kemudian, bahwa ketika aku memilih ojek pasti memang pertimbangan utamaku adalah waktu. ojek bisa secepat kilat membawaku menuju tempat tujuan (meski pernah juga aku membonceng tukang ojek yang lelet). Tapi tetap, jika ingin berkelat-kelit menghindari kemacetan Jakarta dengan lincahnya, ojek adalah jawabannya.

Pernah ada seorang wartawan dari Singapura yang bertanya padaku, sebenarnya tarif ojek berapa sih?  hihihihi, cukup bingung  juga siih, gimana yaah 
selama ini aku membayar dengan beberapa pertimbangan, pertama tentu saja pertimbangan jaraknya, kemudian bagaimana tukang ojek membawa kendaraannya, kan ada tuuh yang serampangan ngebut begitu saja, kemudian seberapa lincah dia menghindari kemacetan, seberapa kreatifnya dia menemukan jalur2 kreatif, seberapa ramahnya dia, bau badan dan helm yang menjadi fasilitas juga jadi pertimbanganku...

Tapi saranku jangan menawar kalo mau naik ojek, langsung ajah mbonceng di belakangnya, seolah-olah kamu sudah terbiasa naik ojek dan tahu ongkos sebenarnya, karena kalo gak, mereka pasti dengan sengaja menawarkan tarif yang tinggi, apalagi tahu kalo penumpangnya orang asing.

Kembali ke rute Ciledug-Cinangka-Kuningan, aku pun berhasil mendapatkan ojek depan gang, namun sayangnya dia hanya mau mengantarku Ciledug-Cinangka-Lebak Bulus dengan alasan rute yang ditawarkan sangat jauuh...

Yah begitulah, demi waktu yang terus mengejaar, aku pun naik..tapi nampaknya tukang ojeknya kurang canggih, memilih rute yang macet dan akhirnya memilih untuk putar balik... huhuhuhuhu, keburu ga yah sampe ke kedutaan, cemasku dalam hati.

Namun akhirnya sampai juga, dengan beberapa kriteria penilainan yang kucatat selama perjalanan, aku pun menyodorkan Rp 30,000 kepadanya, yang kemudian ditolak tukang ojek nya habis2an

"Rp 50,000 neng, ke lebak bulus ajah udah Rp 30,000," ujarnya memelas.

Dan aku pun tidak bisa menolak, karena meskipun lambat dan cara membawa motornya yang hancur (karena setiap lewat polisi tidur pasti aku terpelanting diatas jok motor belakang) aku pun membayar sesuai dengan yang diminta.

Waktu memang tidak ada hargaku, pikiriku bijak.

Beralih ke tukang ojek kedua, yang siap mengantarkanku dari Lebak Bulus ke Kuningan, aku sudah tahu sepertinya tukang ojek ini sangat berpengalaman, melihat dari kostumnya, helmnya...

dan benar, teman....

dia membawaku secepat kilat...bussyeeet, benar-benar kaya pembalap.
ngebut tiada tara, dan tidak pernah berhenti sedikitpun waktu macet, selalu berusaha mencari celah-celah yang memungkinkan, dan juga lincah mencari jalur-jalur alternatif.

Dan sempat-sempatnya dia mengajak ngobrol diriku dengan ramahnya.

Wah, kalo ada pemilihan tukang ojek terbaik di Jakarta, pasti bakal ku nominasikan dia untuk jadi pemenangnya.

Dan ajaib, setengah jam dari lebak bulus aku pun sampe di kedutaan yang kutuju di didaerah Kuningan, padahal pagi itu jalan lumayan macet...

Ckckkckckck...

Menutupi rasa kagumku, akun pun kali ini bertanya pada abang ojek itu," berapa bang ongkosnya?"

"Rp 40,000,"

dan aku tahu itu harga yang pantas untuknya.

Good quality comes with Good price, i believe that.

Cukup saja cukup

"Aku pengin kaya," ujar sahabat baikku, Odit, ketika kami sedang makan siang di warung sebelah kantor.

Sebenarnya bukan sekali aku mendengar keinginan odit, tapi saat itu keinginannya menggugah keingintahuanku.

"Kenapa kamu ingin kaya, Odit?" tanyaku.

Pertanyaan bodoh, siapa yang tidak ingin kaya tentunya. Semua orang pasti kebanyakan jika ditanya mau kaya atau enggak, pasti dengan pasti mereka menjawab enggak.

Tapi aku tidak. Menurutku hidup kaya itu melelahkan, bukan artinya cape menghabiskan duit yang banyak itu..tapi yah cape ajah membayangkan menjadi seseorang yang kaya raya dibanding ketika menjadi orang melarat. Ketika miskin, pasti hanya satu atau dua atau paling tidak, tidak akan lebih dari tiga hal yang dipikirkan, makan, makan, dan makan (bertahan hidup). tapi jika kaya raya? waduuuh..mulai dari liburan mewah, peralatan teknologi terkini, perawatan tubuh, mobil mwah, rumah lux dan perabotannya, iyah perasaan tak pernah cukup itu belum lagi perasaan aman (secure)..capek aaah

"Cukup saja itu cukup, sayang" ujar suamiku, ketika aku mencoba berdiskusi dengannya disuatu malam.

Iyah, aku setuju denganmu, sayang.

Kami berdua memang bukan dari keluarga kaya. sama-sama anak dari pegawai negeri sipil yang kehidupannya yaah pas-pas saja, sedang-sedang saja laah.
Beruntung sekali, kami sekarang bisa hidup lebih dari cukup saat ini, punya rumah sendiri, kendaraan sendiri, bisa makan kenyang setiap hari. Iyah cukup. aku rasa itu cukup.

"Gw ga pengin hidup melarat, Ka," ujar odit menjelaskan alasan kenapa dia ingin jadi kaya.

"Tapi sekarang hidup kita kan juga ga melarat-larat amat kali dit," jawabku.

"Iyah gw pengin bisa beli buku,"

"Sekarang kita juga masih bisa beli buku,"

"Kalo gitu gw pengin bisa beli buku lebih dari satu,"

Aku tertawa.

"Gw pengin beli buku banyak tanpa harus pusing, pengin liburan ke luar negeri tanpa harus pusing, pengin supaya anak gw besok gw usah pusing kalo nyari sekolah yang bagus"

Mmm...pernyataan odit yang terakhir membuatku berpikir. Mungkin benar kata odit, menjadi kaya itu penting, apalagi kalo punya anak. karena menurutku dia dilahirkan kedunia ini untuk menjalani hidup yang lebih baik dari kedua orang tuanya.

tapi untuk sementara. cukup saja cukup


aku dan TV

saya sudah tidak menonton tv kurang lebih dua minggu. bukan maksud apa-apa, bukan sok atau tiba-tiba jadi kelompok anti TV garis keras..alasanya cuma satu, saya gak punya TV.

temannya saya tercengang begitu saya bilang saya belum punya tv, mata nya membelalak lebar sambil kemudian memegang bahu saya menatap saya sambil tak percaya, "beneran loe Ka?"

iyaah, sebelumnya saya kasih tahu dia kalau saya juga belum punya kulkas, tapi nampaknya itu hal yang biasa buatnya, pasangan baru, belum punya kulkas sih biasa, tapi belum punya tv?

Hihihi..kayaknya itu juga yang menjadi alasan kenapa ibu, adik-adik dan saudara-saudara saya jadi jarang menginap dirumah saya. karena sepi. dan hiburan satu-satunya hanyalah kartu Uno!..hehehehe

mmm...tapi bersiaplah kecewa karena, saya tidak akan membeli tv sampai saya punya cukup duit banyak untuk beli TV plasma 36 inci dengan saluran tv kabelnya dan home theater dan juga Wii dooong...hehehehe...mimpi deh Ka...

Gak bukan itu alasan saya tidak beli tv atau tidak punya tv. saya sudah terlanjur poatah hati dengan tontonan tv di Indonesia.

Terakhir yang saya tonton adalah acara gosip, yang kalo orang menontonnya dari pagi sampai malam, pasti bisa bikin perut muntah. semuanya diulang-ulang, gambarnya, ceritanya, sudut pengambilan gambar....... HUEEEEEEK. dan saya hanya bisa menyebut nama Tuhan.

Saya sebenarnya juga bukan yang anti banget sama TV, saya percaya TV adalah medium yang paling kuat untuk mempengaruhi persepsi (tapi saya juga percaya kalo penonton adalah yang maha kuasa, si pemegang remote control)

Saya ingat saya pertama kali terpesona dengan TV adalah waktu bapak membelikan kami TV berwarna,mmm..waktu itu girang  banget karena dengan senang saya bisa menonton RCTI, satu2nya saluran TV swasta pertama yang punya acara2 keren selain dunia dalam berita dan laporan khususnya pak harmoko. Benar2 oase di padang gurun.

TV ketika itu adalah pelarian ketika abis penat belajar, film-film jagoan jam 8 malam seperti the knight Rider, airhawk, mcgyver...huaah, bener2 wajib tonton!

dan waktu itu, saya juga merasakan banyak manfaat menonton TV, terus terang saya belajar bahsa inggris pertama kali adalah dengan TV. sambil menonton Sesame Street, mencatat kosakata-kosakata yang baru di buku khusus yang saya miliki...

Dan keterpesonaan saya terhadap medium ini pun saya tumpahkan dalam skripsi  kemarin, saya  meneliti televisi, tepatnya penonton televisi...

tapi sekarang?

saya berusaha menghindari TV. menyadari bahwa satu jam didepannya adalah sama dengan membuang waktu...

lebih baik melakukan lain yang berguna.

"Gila...gw heran apa yang loe lakuin di rumah baru loe sama suami loe. TV kagak ada, kulkas juga ga ada. Loe juga jarang masak. Heran gw," ujar seorang teman...

Hiihiihihihihi....ada deh!




Saya berumur 26 tahun. Saya masih naif.

Saya berumur 26 tahun. dan saya baru sadar kalo saya masih naif.

Jadi begini ceritanya:

suatu ketika saya diajak ketemuan makan siang dengan seorang presiden direktur perusahaan minyak luar negeri. entah kenapa, saya juga tidak tahu maksud undangannya, yang jelas dia niat sekali mengundang saya. undangan pertama saya terima waktu saya masih sakit typus, dan yah saya hiraukan begitu saja, sedang tidak ingin berurusan dengan hal-hal berbau energi ketika itu. Dengan sopan, saya katakan ke sekretarisnya kalo saya sedang sakit dan tidak mau diganggu.

Setelah beberapa lama, dan saya kembali lagi bekerja, sebuah sms masuk ketika saya sedang makan malam dengan sang suami,

ternyata sms datang dari presiden direktur itu
"Halo, Ika..sudah sembuh yah? saya sudah lihat beberapa tulisannya muncul di koran beberapa hari ini."

dan terlibatlah saya dalam pembicaraan basa-basi..yah demi menjaga hubungan baik antara wartawan dan nara sumbernya laaaah....

besok paginya, sekretarisnya langsung menelepon, memastikan jadwal makan siang...huh, bukan sombong, tapi jadwal wartawan mana bisa ditebak, bisa saja tiba-tiba disuruh kesini disuruh kesana...

ketika saya tanya apa maksud undangan makan siang itu, mba nur, sang sekretaris itu menjawab," wah, andai saya tahu mba..."

mmm, aneh juga sih..karena setahunya jika perusahaan itu mengundang, saya pasti berhubungan dengan yang namanya mba fathia, yang saya kenal dengannya karena dia yang membantu urusan saya pergi ke Shanghai beberapa waktu itu atas undangan perusahaan yang bersangkutan.

tapi dugaan saya waktu itu, wah pasti ada berita besar nih, karena saya tahu bahwa rekan saya di Bisnis Indonesia juga diundang...ada kabar seru apa nih.

dan hari janjian makan siang itu tiba...kami diajak makan siang ke coffee shop di Grand Hyatt.
Ak dan Rudi, wartawan Bisnis Indonesia, tergopoh-gopoh lari dari tempat liputan di daerah kapten tendean untuk mengejar bapak presiden direktur yang menurut sang sekretaris sudah duduk manis di dekat jendela...

dan sampailah kami disana...

tidak ada pembicaraan penting.
semuanya hanya basi-basi.
berbicara masalah kondisi politik sekarang.
siapa nanti calon presiden.
pengganti menko boediono
pemetaan kekuatan politik menjelang kampanye presiden 2009, yang aku hanya bisa menertawakannya, karena yah aku sama sekali malas dengan hal-hal seperti itu...
hanya makan siang tanpa juntrungan, dan parahnya kami tidak dapat berita karena sang  bapak tidak mau berkomentar apapun tentang perusahaannya. Ya ampun jadi cuma makan siang nih, makan siang gratis satu jam.

Tapi itu pikirku.

dalam perjalanan pulang, Rudi bilang bahwa si bapak punya agenda, dia pengin tahu informasi yang kami ketahui  tentang peta politik  di  Indonesia. Rudi menyebutnya, antek barat, yang ingin tahu peta di Indonesia.

Pertanyaan-pertanyaannya menuju kesana, ucap Rudi, bahkan pertanyaan  terakhirnya ttg siapa pengganti menko, yang memang kandidat terkuatnya si Purnomo, mentri esdm yang sekarang. sebelum akhirnya dia buru-buru pamit untuk live-tele conference

"dan abis itu, dia pasti bertanya, siapa menteri esdm yang baru," kata Rudi dengan penuh percaya diri.


Ya ampun Ika, there no such thing as free lunch, ujarnya memelas...

Busyet. kok aku ga sadar yaah. Polos banget banget aku. Naif sekali.

begitu bertemu teman liputanku satu lagi, si Alih, yang usianya jauh lebih muda dari aku, dia pun membeberkan semua hal. kalo bapak presiden direktur itu punya hubungan sama Tanri Abeng, yang diisukan jadi menko, dan dia juga punya hubungan dekat dengan si Sofyan Djalil. Ckckckckck.

Kok saya bisa gak tahu yah?

menyadari itu, saya hanya bisa tersenyum lebar. iyah,  saya memang naif, tapi saya bahagia kok...

the philosophy of life: in the making

Saya baru saja membaca baca buku Khrisnamurti oleh-oleh khusus dari pacar adikku yang kayaknya ngefans berat dengan pak Khrisnamurti

Buku yang bagus dan menarik, di dalamnya saya mendapatkan banyak hal. Begitu banyak dan kata-kata bijak dan filosofi hidup yang nampak sederhana tapi terabaikan.

Terlepas dari bacaan itu, aku mencoba mengaca pada diri sendiri, menajdi malu karena sudah 26 tahun aku hidup di dunia ini, belum ada satu pun pemikiran bijak yang bisa kuhasilkan, apalagi dikutip huahahahhahaha.

apa dalam hidup ini aku terlalu main-main, terlalu tidak peduli, terlalu asik dengan yang begitu cepat, sehingga aku terlalu pusing untuk merenung, malas mencoba merangkum apa yang sudah lewat. fiuuuh.

Yah mungkin saja. Kata suamiku mungkin aku terlalu tidak peduli. Suamiku yang hidupnya mengalir saja dan tanpa ambisi itu bahkan punya filosofi dalam hidupnya "pandung ing anugrah"..(aah, aku lupa tepatnya apa , pokoknya  artinya bersyukur atas anugrah yang diinginkan)

Lalu aku apa?

mmm..mencoba berpikir...dan berpikir

yang kuingat satu, dan ini rada konyol, tapi ini membantuku dalam beberapa hal, terlebih ketika mengatasi hal-hal sulit atau menghadapi pekerjaan yang nampaknya sulit dikerjakan.

Prinsip itu adalah: "Kalo bisa masuk pasti bisa keluar"

iyah emang rada konyol, tapi bukan jorok lho...hehehehhe. prinsip ini yang kudapat tak sengaja, ketika mencoba menguraikan pita kaset yang kusut. Yah sampai akhirnya bisa. kalo bisa dari ga kusut jadi kusut pasti bisa  untuk sebaliknya..dan prinsip ini kupegang terus, ketika misalnya mengambil sesuatu dari tempat tinggi, (kalo bisa naik keatas, pasti harus turun doong) ..yah logika ecek-ecek, tapi bener2 membantukku ketika menghadapi masalah yang terlihat sulit.

yang kedua, kukutip dari sebuah iklan tapi kumodifikasi sedikit...one thing leads to another, and it is always ended in a good thing.

Semangat, semangat dan semangat..ga perlu sedih kalo berjalan tidak sesuai rencana, just do your best because at the end you will get what you want in a better way.

mmmm, belum kepikiran yang lain...
status: s e a r c h i n g





   

Aku punya Mbah Basri

berita itu datang tiba, tepat tengah malam...

aku mencoba tak terbangun, berusaha menutup mata ini rapat-rapat dan kemudian kembali tidur. Tapi kau terus dan terus berbicara di telpon, mengusik rasa kantukku.

"Mbah meninggal" ujarmu seketika setelah menutup telpon

Mataku langsung melek dan hilang semua kantuk.

Aku diam. Kamu diam.

Sesaat.

Aah, mbah Basri..baru siang tadi aku memikirkanmu. sebuah bungkus permen Fisherman's Friends berwarna kuning mengingatkanku padamu. Iyah, aku berjanji membawakanmu sekantong permen pedas itu untukmu. Aku berniat membawanya ketika aku berkunjung ke Jawa Timur nanti, membawakannya khusus untukmu, sebagai pereda serangan batuk mu yang tidak berkesudahan.

Kelik sudah cerita bahwa dirimu terkena serangan batuk parah, dan terkadang sering tidak berhenti.
Dan aku pun lumayan terkejut, ketika kamu bilang, "aah, obatnya gampang kok...tinggal ngemut permen doang"

Aah, seharusnya aku kesana, mengunjungimu kemarin ketika aku sedang di Jogja, tapi typus brengsek ini belum mau pergi juga dari tubuhku. Maafkan aku mbah, karena tidak bisa melihat tempat yang kau sebut rumah.

Katamu, suasana daerah rumahmu tidak jauh beda dengan rumahsenyumpagi aku dan Kelik. Belum banyak rumah, di sekitarnya masih banyak kebun dan tentunya nyamuk-nyamuk...uh, penasaran sekali aku ingin melihat kebun anggurmu dan juga kelambu yang kau punya di tempat tidur.

"Pasang saja kelambu di tempat tidur biar tidak ada nyamuk," katamu ketika berkunjung ke rumahsenyumpagi. Aku tak tahu kenapa kenapa dirimu waktu itu berkeras ingin datang ke Jakarta dan mengunjungi rumahsenyumpagi. Tapi aku bisa merasakan, dan dari senyummu, aku tahu kamu pasti bahagia, begitu bangga akan Kelik, cucu kesayanganmu.

Dan aku pun senang, akhirnya aku merasakan punya kakek, sosok yang selama ini tidak kutemui dalam hidupku, karena kedua mbah putriku sudah ditinggal mati oleh  mbah kakung begitu aku lahir.

Aku jadi tahu rasanya punya kakek waktu itu, melihatmu  pagi hari dengan semangat berusaha memperbaiki pompa air di rumah kami. Kamu, kelik dan om berpeluh keringat dan kotoran tanah, demi air untuk rumahsenyumpagi.

Aku senang sekali waktu itu, melihatmu bekerja, menampikkan serangan batuk yang tiba-tiba. Aku mencoba membantumu berkali-kali. Tapi kamu selalu bilang, "sudah jangan, nanti kotor," katamu.

Maaf, aku tidak bisa mengantarmu ke tempat peristirahatanmu terakhir, Mbah.

aku hanya bisa menitipkan salam lewat Kelik. Salam yang paling manis buat seorang Kakek dari cucunya.

Aku janji lain kali kita ketemu, aku akan bawakanmu permen itu. Janji.






maaf, saya tidak mengerti maksud pertanyaannya

terbangun pagi hari  di tempat tidur dirumahsenyumpagi. suamiku sudah meninggalkanku dan memilih 'bermesraan" dengan proyek2 iklan itu...
rasa mual pun tiba menyergapku, kemudian teringat beberapa pertanyaan yang sering kali ditujukan padaku akhir2 ini. pertanyaan yang aku masih bingung menjawabnya, karena sepertinya jawabanku tidak seperti yang diharapkan si penanya.
pertanyaan pertama: gimana Ka rasanya habis menikah?
(menghela nafas karena ini pasti pertanyaan yang kesekian kalinya dari orang yang kesekian kemudian berharap semoga bukan utk urusan basa-basi)
Lalu aku menjawab: yah gini ajah. biasa ajah.
lalu mereka bertanya: biasa gimana?
(Lalu aku tertawa berharap, kemudian si penanya menanyakan hal lain pekerjaan, atau apa lah, atau kalo tidak biasanya aku memaksanya beralih ke topik yang berkaitan dgn si penanya,  membalasnya bertanya dengan "terus kapan kamu menikah?" )
berpikir, sebenarnya apa sih jawaban yang ingin mereka dengar. aku bahagia? aku senang? aaah proses ini kan tidak sejatinya bahagia melulu. semua hadirdalam paket yang komplet sedih dan senang. dan mencapai kebahagian itu bukan proses yang sekali jadi. kamu menikah dan esoknya kamu bahagia, tersenyum lebar dengan suami di sampingmu.
bukan itu juga.
lagipula, bayangkan proses menjadikan satu, dua orang berbeda cara pandang, latar belakang, pemikiran bukan proses kilat yang bisa dengan gampangnya kemudian disimpulkan "kami merasa cocok".
Saat ini aku masih berproses. menikmati segala prosesnya. belajar terus- menerus tiap harinya utk memahami dirinya. logikanya, emosinya, ideologinya. sikapnya, kemauanya, dan tentu reaksi tubuhnya :) (tapi dungunya, orang yang berpikir kalo menikah hanya utk mendapat kepuasan seksual yang halal. halal tapi kemudian memaksamu bersama seseorang  seumur hidupmu, yang belum tentu cocok denganmu. makan tuh Halal!)
pertanyaan kedua: udah isi belum, Ka?
bingung juga dengan pertanyaan ini. Iyah aku tahu maksudnya. tapi logika dibaliknya yang aku ga ngerti. Isi? emang aku selama ini kosong, tidak berisi, sehingga harus diisi? lalu harus diisi dengan sesuatu yang asing, dari luar diriku, diisi dengan sperma. supaya menjadikanku lengkap. utuh.
Ugh,semoga saja bukan itu maksudnya, mungkin pertanyaannya: "Ka, perutnya udah isi belum?"
dan aku pun menjawab: "Udah kok, barusan sarapan pake telur dadar dan abon"   

Pria-pria itu

saya adalah perempuan normal yang bisa terpesona oleh makhluk-makhluk ganteng

eeehm, dan akhir-akhir ini saya sedang terobsesi dengan seorang makhluk yang namanya Jude Law. Semua darinya membuat saya terpana, yah matanya, yah aksennya, yah itunya...ehm tubuhnya maksudnya...hihihihi membuat saya termehe-mehe kengileran. slurp deh pokoknya.
Memelototinya di film terbaru besutan Wong Kar Wai Blueberry Nights pun tak membuat saya bosan. sebuah adegan rela kuputer berulang-ulang, yaitu saat doi sedang termenung di pinggir jendela kafe. Masya Allah..

Dan dia bukan satu-satunya, bukan  yang terakhir, dan juga yang pertama. Teringat bagaimana aku pertama memuja seorang pria, dan lagi dan lagi dan lagi

pria pertama yang kuingat dalam kepalaku adalah bapak Tri Sutrisno, iyah bapak yang itu...tentu saja aku mengidolakannya hanya sebatas rasa kagum anak2 sd...hihihi, tapi sumpah waktu itu aku melihatnya sebagai sosok yang paling ganteng, diantara deretan-deretan mentri, moerdiono, harmoko dan pak Harto  yang wajahnya kerap sekali menghiasai layar televisi (ya iyalah Ka)

Yang kedua adalah Devon Sawa, iyah si ganteng dari film Casper, mmmm..cute bangeet, istilahnya waktu itu...lalu ada juga Brad Renfro yang tak kalah ganteng...yah tapi aku sudah bersepakat dengan Dita, sahabat SMPku waktu itu, dia dapat Brad Renfro aku dapat Devon...hihihihihi, pembagian yang cukup adil menurutku.

Rasa yang paling parah yang kualami adalah waktu aku jatuh cinta --ngefans-- David Beckham...huhuhu dia membuatku menangis tersedu-sedu karena memilih berpacaran sama Victoria the Posh Spice. Padahal dulu aku sempet bela-belain begadang untuk nonton bola --bukan nonton bolanya sih, tapi nonton Beckhamnya--  dan aku sempet-sempat nya merenung sehabis berharap bertemu dirinya di mimpi.
aku pun pernah punya sebuah surat cinta untuknya, yang ingin kukirimkan keinggris, tapi urung kulakukan karena dia sudah memilih perempuan itu. huh.

Tom Cruise, aha...he is my next target. sempurna. aku bilang..yah menurutku pilihan yang aman selain Brad Pitt yang diidolakan oleh sejuta umat kaum perempuan di dunia. Melihatnya di Mission Impossible 1, dengan rambut jatuhnya...huahahhahaha, gara-gara dia aku terinspirasi untuk punya cowok berambut jatuh.. yang kebanyakan orang ga ngerti apa maksudnya.
Tapi rasa itu tiba-tiba ajah hilang. dia jadi BIASA ajah tuh...

untuk artis lokal? mmm..saya tidak punya tokoh idola yang membekas di ingatan saya. hanya satu: Donny Damara, satu diantara dua pria dalam hidup saya yang membuat saya mimpi basah.

sampai sekarang masih bingung, entah kenapa pria itu bisa ada di mimpi saya yaah?

coba yang pandai psiko analisis, bisa bantu saya?
hihihihihi


saatnya berhenti, Ka!

orang rajin tahu kapan dia memulai, tapi orang bijak tahu kapan dia harus berhenti.

iyah, dan aku berhenti.
sejenak.

setia dalam suka dan duka

Setelah hampir seminggu merasa tidak enak badan, aku pun memutuskan menyerah dan akhirnya pergi kerumah sakit...biasanya cukup dengan kerokan dan makan banyak, aku pasti kembali fit

dan akhirnya aku pun positif typus...
mmm, aneh (dan untungnya bukan aku saja yang berpendapat demikian)
karena aku merasa baik-baik saja, nafsu makanku pun normal-normal saja, hampir semua makanan aku lahap. kecuali memang aku selalu mual dan lemas (beberapa orang pun berasumsi aku hamil..hihihi, tenang, kawan-kawan kami tidak seceroboh itu kok)

Karena alasan itulah, aku bersikeras untuk tidak mau diopname...karena aku merasa baik-baik sajah (pasien antik, kata ibuku)

yah terpaksa beristirahat dirumah, ditemani  oleh suami tercinta, yang entah kenapa kok sakit parah juga..
malah lebih parah, karena suatu malam dia terkena demam sangat tinggi, dan akhirnya aku pun harus kerepotan, membuatkan teh hangat, ngerokin, membalurnya dengan balsem, memberikan obat...huuh, jadi bingung, yang sebenarnya sakit siapa yaah?

sempet jengkel juga, karena suamiku itu orang yang terlalu pemilih dalam hal makanan dan obat2an, jadi sempet stress dan marah-marah sendiri, karena panas yang tidak turun-turun..

dan mengingat kembali janji itu: setia dalam suka dan duka...

yah, sayang, aku masih belajar...masih perlu banyak belajar...

24 februari 2008

hidup bukan hanya soal pekerjaan hari-harimu dan kemudian dibayar setiap bulannya
hidup juga bukan hanya mengurusi keluarga, mendampingi suami dan menjalankan peran istri yang baik sebagaimana yang diinginkan bermasyarakat

hidup adalah juga menyusuri suatu sore dengan seorang teman baik, berbagi cerita dan berbagi keluh, mengabadikan setiap momennya, dan saling mendengar, saling tertawa, menyadari bahwa diri kita ada dan dibutuhkan mereka dengan tanpa pamrih. tanpa beban.


terimakasih winta buat sore yang menyenangkan

btw, sejak kapan yah jilbab jadi urusan sosial...mmm





Jakartaku yang lebih ramah

apa yang sebaiknya dilakukan jika terjebak banjir?
mmm...gimana kalau menikmati suasana Jakarta yang lebih ramah?
tentu itu lebih menyenangkan, ketimbang menggerutu, mengumpat-umpat, dan marah-marah sementara hujan tidak berhenti turun juga...

percaya deh, itu yang saya lakukan kemarin, ketika (lagi-lagi) Jakarta dilanda banjir.

Berangkat (sengaja) siang, saya merasa tidak ada masalah melewati rute, Ciledug Jalan Sudirman..karena kurang dari satu jam saya akhirnya bisa sampai di bunderan HI.

Keadaan tak terduga menanti kendaraan disana, karena Sarinah diberitakan banjir...mmm, dengan sigap sopir bis patas ac 44, yang saya naiki, membelok ke arah Sutan Syahrir, berharap bisa menghindari rute lain.

Dan memang tidak ada yang mudah di Jakarta, ketika sampai di jalan Sutan Syahrir, jalan sudah penuh sesak dengan mobil yang berderet-deret.

Sopir bis nya pun semakin blingsatan mencari jalur-jalur alternatif lain, belok kiri, belok kanan, belok kanan lagi, putar balik...membuat penumpang bingung, kemana si abang sopir membawa mereka.

Bis yang biasanya dipenuhi kebisuan, dengan penumpang yang acuh sama laiinya, tiba-tiba ramai.

"Wah pak, kita mau dibawa ke mana nih," ujar seorang cewek yang duduk bersebelahan dengan bapak tua.

"Wah, mbak turun dimana?" tanya bapak tua itu balik..lalu terciptalah sebuah pembicaraan yang akrab

Bahkan kenek bis, yang biasanya sangat jutek sama saya, yang suka protes karena diperlakukan semena-mena, tiba-tiba bertanya, " mbaknya turun mana, yah?

sedikit tidak percaya, saya pun menjawab, "menteri esdm, eh bank bi, bang."

Hujan yang tiada henti, membuat bis tidak bisa melewati jalur thamrin, akhirnya mau gak mau mereka membawa penumpangnya melawati cikini dan akhirnya lewat tugu tani,daripada kebablasan saya pun memilih turun.

Waktu itu saya berpikir, dari pada kembali ke esdm, lebih baik ke pertamina saja, lagian kan wartawan lain sudah janjian disana.

Dan dimulailah petualangan seru melewati kubangan-kubangan air di sepanjang jalan dari tugu tani ke pertamina.

Saya berjalan sangat hati-hati, mengecek berapa kedalaman air, mengangkat tinggi-tinggi celana saya...bertanya dana memastikan ke bapak-bapak satpam, "dalam ga pak airnya,"

sepanjang perjalanan, saya tak henti2nya marah-marah dan merutuk, tapi sepanjang perjalanan saya merasa aneh sendiri..saya melihat sekeliling, banyak orang yang sangat menikmati keadaan ini...

segerombolan anak-anak perempuan yang baru pulang sekolah, bercanda tiada henti, anak-anak kecil juga tertawa begitu lepas, bermain di arus jalan yang lengang, beberapa anak muda, tak  hentinya menggoda  semua orang yang melewati jalan itu.. yah termasuk saya juga digodanya...

sempet sebel bukan kepalang, tapi waktu saya akhirnya terjatuh di kubangan dekat stasiun gambir, saya tidak bisa apa-apa...saya ikut tertawa bersama mereka,,menyadari betapa konyolnya hujan ini, banjir ini, jakarta saya dan jakarta mereka...

dengan semangat saya pun melanjutkan perjalanan. dan di penyeberangan jalan, saya bertemu serombongan bapak-bapak yang baru pulang dari sholat jumat, berjalan bersama mereka, tanpa sengaja sayalah memimpin rombongan (mungkin karena saya yang paling basah). Waktu menyeberang jalan pun, saya yang menghentikan kendaraan2 ituw...hingga salah seorang dari mereka berkata, "ayo mbak, distop kendaraannya,"

dan sumpah, waktu itu aku tertawa!







mimpi jadi kenyataan

sayapernahbermimpibertemupolisibaikhatiyangrelamenolongorangyangkesusahantanpapamrih,menolak suapdanmenjalankantugasnyadenganbaik

Duaaar!!! dan mimpi itu jadi kenyataan...

kemarin saya pergi ke kantor polisi tangerang, untuk merealisasikan resolusi saya tahun lalu, mendapatkan sim A

atas wejangan dari beberapa rekan wartawan, mereka menyuruh saya untuk menggunakan id wartawan saja, karena segala urusan pasti beres, tidak perlu lama menunggu, tidak perlu tes-tes an segala, segala urusan beres dan saya tidak harus mengeluarkan duit2 banyak, yaaah hanya bayar sesuai peraturan saja...

Dan berangkatlah saya pagi itu dengan semangat.
naik-turun angkot tiga kali, sampailah saya di polres tangerang.
berkat denah dan petunjuk yang hampir-mendekati-akurat saya tidak mendapat kesulitan untuk menemukan tempat pengurusan sim.

namun, sebelum masuk, saya merasa ada yang aneh, tempat itu sangat lengang, dan tidak ada satu pun calo yang menawarkan jasanya ketika saya masuk. Mmmmm...
saya mendekati loket pendaftaran, belum juga saya mengeluarkan id wartawan, tiba2 polisi yang berpakaian putih itu bertanya, "mbak udah periksa kesehatan belum?"
"Belum pak," jawab saya.
langsung dia menyuruh saya untuk pergi memeriksakan diri saya di klinik terdekat, yang ternyata berada di luar area wilayah kantor polres...

Aneh benar! tapi saya langsung disana, menghadapi dokter tersebut, yang saya tahu persis adalah dokter gadungan. dia menyuruh saya untuk menggerak-gerakkan tangan, menggerak-gerakkan kaki (sumpah saya merasa bodoh sekali) dan dia langsung menulis sesuatu di kertas biru dan menyerahkan kepada saya, sambil meminta, "mmm...40rb mbak"...duuuuh, saya, yang merasa seperti tersihir, pun segera menyerahkan duit itu, dan mendapati dikertas biru tersebut bahwa dokter gadungan itu juga menuliskan tekanan darah saya, meski dia sama sekali tidak memeriksanya....

masih terheran-heran dengan apa yang baru terjadi, aku pun kembali ke tempat pengurusan sim, mencoba menenangkan diri bahwa sebentar lagi aku dapat sim.

Kembali ke loket pendaftaran, dengan pd-nya saya pun menngajukan pembuatan dua sim sekaligus sim a dan sim c, plus melampirkan kertas biru sakti dari dokter gabunganitu...dan tentu saja tak lupa menyertakan fotokopi id press saya.

"pak, saya bisa dibantu kan?" saya harus liputan lagi," ujarku, merangkai kata-kata sperti anjuran teman2 wartawanku.

"maaf mbak, semua harus mengikuti aturan, mbak tunggu saja kita akan proses sesuai prosedur," petugas yang bernama pak riyanto itu menjawab tegas.

Sebentar ada yang ga beres niih, aku melihat sekeliling dan aku tidak melihat satu calo pun, dan polisi-polisi yang memakai baju putih...

aku pun mendengar seorang polisi yang tetap menolak memberi bantuan kepada sesorang, yang mengaku adiknya seorang komandan. aku pun melihat seorang petugas gagal membantu adikknya yang diantarnya untuk dapat sim.

dan ya... mimpi saya itu jadi kenyataan.

tapi entah saya merasa sangat tidak nyaman dengan semua ini.

karena saya pun akhirnya harus mengikuti semua prosedur yang ada, menunggu berjam-jam, mengikuti tes-tes yang ada --tes teori dan tes praktek...

dan seperti kebanyakan semua orang, saya pun gagal, meski berhasil lolos dari tes teori....dan hilang kesempatan untuk mendapatkan sim hari itu, aku harus balik ke sana seminggu lagi untuk ujian ulang...

berjalan lunglai, seorang perempuan yang juga gagal ujian sim, pun membisikkan padaku, "Eh tahu ga kenapa jadi begini, katanya sekarang lagi pemutihan, sebab kapolres (kepala polisi) nya baru. tempat ini termasuk yang punya citra buruk karena banyak sekali calo. tapi katanya sih cuma sementara, bulan depan udah kayak biasanya kok..kita ajah yang apes nih, mbak!"

dan aku hanya bisa tersenyum miris. aaaaaarggg, aku pasti mimpi buruk

Berguna bagi nusa dan bangsa

Berguna bagi nusa dan bangsa.

Ingat kan kalimat legendaris tersebut, yang seringkali diucapkan kala kita kecil setiap saat  ditanya, apa cita-citanya? Hehehhe, jawaban yang sangat aman, dan efektif, karena langsung membuat si penanya terdiam, mengangguk atau terharu bahagia, sambil berkata, “wah anak pinter,”

Aaah, jawaban aman yang susah sekali untuk dilakukan.

Seorang teman dekatku, winta yang pertama kali membuatku sadar bahwa melaksanakan kalimat itu bukan hal yang mudah.

Mmm…berguna bagi nusa bangsa? Apa yang bisa dilakukan yah...Membayar pajak? Jadi dokter? Atau PNS? Jadi menteri? Atau presiden…

mmm..sepertiny bukan itu semua deeehGila bener-bener blank otak ini…

Dan Winta pun punya kegelisahan yang sama, apa yang bakal dilakukannya untuk berguna bagi nusa dan bangsa.

Aku pun juga merasa sama, aku merasa bahkan belum berguna bagi keluargaku, aku belum melakukan apa-apa untuk suamiku, buat orang tuaku..aku juga belum memberikan hal bermanfaat buat orang-orang disekitarku…

Apalagi buat nusa dan bangsa yah….

Tapi mungkin kita harus mulai dari yang kecil-kecil dahulu...

Menyempatkan waktu lebih banyak dengan suami, sering bercengkrama dengan keluarga, bekerja dengan baik, menulis lebih baik lagi, membaca lebih banyak, mengajari anak-anak lain, berbagi ilmu...

Aah, andai ada alat yang bisa membantuku untuk mewujudkan itu semua...
Tentu saja bukan kantong ajaib atau tongkat ajaib...

Dan mungkin berguna bagi nusa dan bangsa, bukan jadi hal yang susah untuk dilakukan...

Sebuah alat yang bisa membuatku menulis dimana saja, tanpa harus balik lagi ke kantor ketika habis liputan,
Yang bisa membuatku selalu berkomunikasi dengan teman-temanku, dan kerabatku yang jauh
Yang bisa membuatku selalu ter-update dengan berita-berita terkini
Yang bisa melakukan semua diatas tanpa harus merepotkanku dengan ukuran besarnya...

Yeah, that’s why i want eee pc :)

 

  

Pulang kerumah

Kemarin untuk pertama kalinya, aku naik bis dari kantor ke rumahsenyumpagi.

perjalanan yang melelahkan!

biasanya aku tinggal menunggu jemputan si ojek cinta untuk pulang kerumah, tapi tidak kemarin...
aku sengaja ingin mencoba berkendaraan umum...

Ruteku, Palmerah-Lebak Bulus lalu Lebak Bulus- Cinangka
tapi si ojek cinta menyediakan dirinya untuk menjemput diriku di Lebak Bulus, kami menyebutnya "di tengah" (kami mengutipnya dari rute sebelumnya Palmerah - Ciledug (rumah bapak ibuku dan kos ojek cinta, "tengah"nya di daerah arteri Kebayoran Lama, dekat kantor Indo Pos)

Pulang dari kantor sedikit awal, aku pun menyeberang rel palmerah...menunggu bis 86 jurusan kota-lebak bulus...dan busyet penuh banget. Sudah tiga bis aku tolak karena kepenuhan, dan bayang-bayang copet selalu menempel di kepala.
Ngobrol dengan calon penumpang lainnya di halte, mereka rata-rata juga punya pengalaman yang sama, dicopet!! waduuuh...
dan akhirnya untung seorang mbak memberi tahu bahwa ada alternatif jalur bis lain yang menuju lebak bulus, selain naik kopaja 86..tapi aku harus berjalanke hotel mulia...

aah tidak masalah, rute itu sudah sering kulewati...
dan berjalanlah aku kesana...
memang benar ada bis kopaja 615 yang cukup kosong, aku pun melihat tulisan di depan Tanah Abang -Lebak bulus

Yippi..bis pun melaju...
perjalanan yang panjaaaang, orang sudah naik turun, dari yang kosong, jadi penuh kemudian sangat sesak hingga berangsur-angsur kosong..
keringat pun bercucuran, karena panasnya malam itu...
duh, kenapa tidak sampai-sampai yaaah

setibanya dilebak bulus, lalulaintas masih saja padat, kendaraan-kendaaran masih merayap di sana...dan dengan susah payah aku pun mendapatimu di ujung jalan...

cape sayang, capek banget...
tapi dalam perjalanan dari Lebak Bulus ke Cinangka..
pikiranku pun melayang kerumahsenyumpagi..
membayangkan kesunyian yang ada disana
mendengarkan jangkrik-jangkrik yang tidak pernah berhenti bernyanyi sepanjang malam
mellihat bintang-bintang yang masih setia di langit
menjumpai kodok depan rumah
menemukan sofa oren nyaman kita
tempat tidur dengan sprei merah kado dari mbahmu
dinding bercerita kita dengan frame-frame foto-foto bahagia
dapur terbukaku
tempe tepung buatan sendiri lengkap dengan sambel koreknya
dan...

kamu yang selalu menemani hari-hariku disana

Sayang, hilanglah segala capek dan penat...

dan aku selalu ingin pulang...

belajar yuks

Ugh, saya kesulitan mengingat kapan terakhir kali saya belajar..iyah, belajar dalam artian merapal  rumus-rumus, mengingat teori-teori lekat-lekat di kepala demi sebuah nilai yang membuat orang tua tersenyum

Sungguh proses yang sayang benci..

Klimaksnya terjadi waktu SMA..menajdi murid SMA teladan di daerah Bulungan bukan hal yang menyenangkan ternyata..belajar, belajar dan belajar. Hidup hanya masalah dapat nilai bagus atau ga, masuk IPA atau IPS..huh!

Hingga kemarin, saya baru tahu ada cara lain memandang proses belajar.
danbelajar bukan lagi masalah nilai bagus dan hapalan teks book

Thanks to my life partner, suamiku.
Dia mengaku bahwa dia selalu belajar dan tak pernah berhenti belajar. Barusan kemarin dia belajar tentang materi yang akan diajarnya di kelas animasi yang dibimbingnya, (istilahnya Combution, tapi setengah mampus dia berusaha menerangkan apa itu aku tetap tidak mengerti hihihihi)
Dengan bijak, dia mengatakan bahwa yang menentukan orang jadi murid atau guru adalah hanya masalah tahu lebih dulu atau tidak...oooow, gitu yaah!

Darinya aku mengerti, bahwa setiap saat adalah belajar
ketika mengerjakan proyek, dia belajar (aku ingat waktu dirinya belajar dengan sungguh membuat tekstur rumput demi sebuah pesanan iklan, dan dia begitu puas dengan hasilnya)
ketika main game (kosa kata bahasa inggrisnya lebih kaya dariku..dan ini gara2 game)
ketika menonton film dokumenter dan membaca national geographic (dan dia punya jawaban-jawaban ilmiah yang kusuka tentang hal2 yang tidak kuketahui)

Harusnya aku pun bisa melakukannya
belajar ketika mengerjakan artikelku, setidaknya aku bisa mempelajari kata-kata baru
belajar ketika membaca novel di dalam perjalanan-perjalananku..
belajar ketika mewawancarai orang...
belajar ketika menunggu bis
aiiih jadi ingat lagunya Alanis yang "You Learn"...iyah yang seperti itu...

dan aku tahu tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar
Dua minggu ini, aku baru saja ikut kursus menyetir di dekat rumah bapak-ibuku. di Ciledug
proses yang menyenangkan meski tidak mudah...
Aku sangat bersemangat karena akhirnya aku bisa mewujudkan resolusiku tahun lalu sebentar lagi: punya Sim A...yipppi!
"Gak terlambat tuh Ka?"
Sepertinya tidak, apa bedanya aku punya SIM A waktu berumur 17 tahun, dengan aku berumur 26 tahun, atua 35 tahun atau 50 tahun? sepertinya bukan perbedaan yang essensial.
Ini masalah keinginan dan kemauan. Keinginan untuk meningkatkan kualitas diri dan juga kemandirian tentunya.

Belajar juga proses yang tidak pernah berhenti.
Kemarin aku berdiskusi dengan Reva, rekan wartawanku tentang proses belajar seorang wartawan. Kami sepakat bahwa profesi kami menuntut kami untuk setiap saat mau belajar. Belajar istilah-istilah baru, belajar memahami masalah, belajar memetakan pendapat, belajar beradaptasi dengan lingkungan baru ketika menghadapi tempat baru bahkan saat rolling satu tahunan ke desk lain.
Kemarin ketika mengajak seorang wartwan senior untuk ikutan belajar nyetir mobil, dia pun mencibir, "Ngapain, kan gak punya mobil?"
Aku pun menjawab, "bukan itu saja mas, kalo misalnya kita ditugaskan liputan kesuatu tempat dan tidak dan kendaraan lain selain mobil, dan tidak ada orang lain, apa yang akan kamu lakukan?"
Dia pun terdiam, mengangguk, "O gituuu."

Tapi menurutku semua orang harus mau belajar, bukan hanya wartawan saja. Karena yah itu tadi, belajar untuk meningkatkan kualitas hidup!.

Dan aku punya daftar panjang tentang apa yang harus kupelajari berikutnya, belajar diving, belajar bahasa asing selain inggris, belajar memasak, belajar menulis, belajar bersabar, belajar lebih mendengarkan orang lain, ....


Aku dan Kamu di tempat tidur

Kemarin aku membayangkan kiamat!

setelah menonton rangkaian bencana yang menimpa tanah Jawa akhir-akhir ini
aku berpikir, mungkinkan ini yang dinamakan kiamat?
mmm, mungkin saja kiamat itu tidak sehebat yang kubayang-bayangkan dalam otakku selama ini. Bola api yang meluncur dari angkasa, api dimana-mana, monster-monster berwujud aneh bermunculan dimana-mana...(huuh, kebanyakan baca Alkitab neeeh hehehehhe)

mungkin saja, kiamat itu berwujud bencana-bencana kecil yang sedikit demi sedikit menggerogoti bumi ini  hingga akhirnya  musnah...

huah, menyeramkam!

malamnya, aku membawa ketakutanku dalam diskusi sebelum tidur dengan  partner hidupku, suamiku

dia menjelaskan di tempat tidur bahwa ada dua jenis kiamat, kiamat kecil (suqro) dan kiamat besar (qubro)...kiamat besar adalah the big crunch, dimana sistem semesta mencapai titik jenuhnya, everything will be terminated, no one can escape..  dan kiamat kecil yang terdiri dari bencana -bencana  kecil yang  dipicu oleh ulah manusia...

di akhir  diskusi, kami berdua sepakat bahwa umat manusia bisa berbuat sesuatu untuk mencegah kiamat kecil

dan aku pun mulai semangat, berusaha mencari apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah bencana-bencana itu

satu langkah konkret yang bisa kami rumuskan, adalah menanam satu pohon setiap tahunnya di halaman rumah kami...menanam pohon adalah langkah yang paling mudah yang bisa terbayangkan mengingat sebagian besar bencana itu disebabkan terbatasnya resapan air dan hilangnya pohon-pohon dari bumi...

mmm, saat ini kami sudah tanam dua buah pohon, pohon mahoni dan mangga...itu belum termasuk pohon cabe pemberian ibuku hehehehhe...

dan kemarin saat pernikahan kami, kami membagikan kepada undangan souvenir berupa bibit bunga matahari, yang kami harap sudah ditanam para tamu yang hadir..aku sendiri baru menanamnya kemarin, dan sudah muncul tunas2 kecil  itu..iih senangnya...

Orang-orang di Bali boleh membicarakan ttg isu climate change, carbon emission, ketakutan pertumbuhan ekonomi yang memburuk jika negara memutuskan untuk mengurangi produksi carbonnya, bla bla bla...

Apakah mereka membayangkan kiamat?

Dan aku dan suamiku tidak melakukan penyelamatan kecil ini supaya aku nantinya bisa diterima  di surga begitu seandainya kiamat  besar itu tiba...hehhehehehe

kami melakukannya demi anak-anak dan cuci-cucu kami, ini kami lakukan supaya mereka bisa menikmati apa yang kita bisa rasakan saat ini: menapak tanah, mengecap air dan menghembus udara bersih.


aaah, sayang...semalam itu diskusi yang menyenangkan!