brengsek!
hari ini membuatku menulis sesuatu yang enggan kubicarakan…
tentang pernikahan…
sebenarnya sudah mulai ingin kubicarakan semenjak ada sms nyasar ke hpku…
berjudul "Rayuan Mempelai"
jadi sudah tertebak, apa yang ingin kubicarakan…
yups tentang pernikahan!
aku mengenalnya pertama kali dari orang tuaku, yups mungkin itu yang membuatku jadi sedikit enggan untuk mengalaminya…ibu dan bapakku, dengan pernikahan yang hari ini tepat memasuki usia kawin perak, pernikahan yang sangat patriaki, semuanya berpusat ke bapakku, ibuku -yang menurutku- seperti tidak memiliki kehidupannya (meskipun anehnya dirinya nampak bahagia dengan pengabdiannya)…uuuhhh membayangkan seseorang seperti bapakku jadi suamiku, argggh!
jika teman-teman perempuan sma-ku membicarakan jangka panjang sebuah kehidupan, maka pernikahan akan jadi list istimewa dalam fase masa depan mereka. "itu kira-kira terjadi ketika aku sudah lulus, usia segini dan ….bla, bla." dan aku hanya terdiam atau paling tidak menyahut "tauk, belum kepikiran!"
iya, yah…
dan aku pun mulai berpikir keras dengan pernikahan karena betapa masyrakat menyanjung lembaga itu. dan betapa ekspetasi kedua orang tuaku terhadap anak pertamanya ini mulai membuatku untuk merenungkannya.
Pernikahan. bukan semata-mata masalah dua orang disatukan atas nama cinta. Cih, basi banget! tapi menurutku adalah kegilaan, gila karena kupikir seperti kita mempertaruhkan kehidupan bahkan kebahagiaan. belum ada yang bisa menjawab "apakah pernikahan bisa menjamin hidup ku bahagia, lebih dari sekarang?" yeah, orang punya definisi bahagia tentunya, tapi menurutku kebahagiaan dalam pernikahan adalah sesuatu yang kompleks, yang enggak kebayang karena melibatkan kedua orang, kebahagiannya, kebahagianku, kebahagiaan "kita".
pernahku berpikir bahwa menikah hanya legitimasi untuk melegalkan hubungan seks? tapi kupikir itu terlalu naif, karena harga yang dibayar itu terlalu mahal untuk sebuah penis dimasukkan ke vagina. Waktu 10 menit kepuasan seksual (?)harus kaubayar dengan ikatan pernikahan yang mengikatmu sampai mati. hanya untuk punya anak? well, kupikir teknologi bisa menjawabnya lebih pragmatis terhadap masalah ini. demi cinta? aduh ada alasan yang lebih konkret, please! aku lebih bisa menerima alasan menikah karena dijodohkan dibanding atas dasar cinta..karena takdir? waw, no comment on that!
tapi, bukan berarti aku tidak membayangkan pernikahan. Aku normal seperti anak perempuan lainnya yang membayangkan dirinya bergaun putih berjalan menuju altar dimana seorang pria tampan menunggunya disana. Well, aku masih seorang perempuan dengan ke-cinderella-an…yups, like there is a prince out there? heehehehe
andai pangeran itu ada. semua akan lebih mudah…
tapi aku salut dengan orang-orang yang memutuskan untuk menikah. aku salut dengan keberanian mereka. Melakukan pernikahan itu butuh tekad dan nekat yang aku belum punya.
i wish i were them…
Entries (RSS)