Minggu
lalu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mendapat empat undangan
pernikahan sekaligus..satu dari temanku di SMA, satu dari teman gereja, satu
dari seseorang yang tidak begitu kukenal dan seorang lagi dari mantan editorku
di kantor lamaku.
Fiuuuh, the
wedding bell is definitely in the air, Ka!
Dan aku?
Hihihihihihihi
Aku pun
merasakannya. Bermula 2 minggu lalu, ketika iseng mendengar pengumuman dari
gereja tentang adanya kursus pra nikah, aku dan my life time partner pun
sepakat untuk ikutan. “Pengen tahu ajah seperti apa sih kursusnya,” niatnya
waktu itu.
Tanpa tahu
kapan kami akan menikah, kami pun mengikuti kursus kilat tiga hari itu.
(Superduper kilat bukan? Huahahahaha, ini makanya aku memutuskan untuk memilih
cara Katholik daripada versi Kristen Protestan ala Gereja Kristen Jawa (GKJ)
yang birokratis dan lelet ituuu.)
Iyah,
sebenarnya, tujuan orang2 itu ikutan kursus pra nikah adalah untuk mendapatkan
izin surat menikah (SIM) dari gereja, lucu bukan, bagaimana agama bisa
mengintervensi kehidupan personal umatnya? Untuk GKJ, setiap orang butuh waktu
6 bulan untuk dapat dinyatakan lulus dan bisa menikah…Fiuuuh, sempet berpikir
cara Islam yang ga perlu kursus, tapi sayangnya aku bukan orang yang bisa
berdoa lima kali sehari sih…
Dan untuk
mendapatkan SIM itu, yang perlu dilakukan adalah mendengar, iyah mendengar
saja, dan jadilah orang normal (teringat olehku ketika Pastur Bruno yang
mendelik ketika mendengar jawaban kami tentang ayat di alkitab yang menjelaskan
awal mula konsep pernikahan di kitab Kejadian, karena waktu itu kami sepakat
bahwa manusia bersepakat untuk menjadi satu (baca: menikah) agar bisa
mendominasi alam semesta ini…huahahahhahaha)
Lebih mudah mendengar sebagai orang normal ketika
mengikuti materi yang mengawang-awang itu. Tapi untungnya selain materi yang
sangat surgawi itu, kami pun diberi materi yang lebih manusiawi yakni tentang
seksualitas. aku tahu sekarang gimana
caranya bikin anak cowok, tahu apa itu erogen (bagian-bagian tubuh yang mudah
terangsang), tahu berapa ukuran normal penis, dan tentunya jadi tahu
macam-macam posisi bercinta.
Kamipun diberi tahu cara berkomunikasi sebagai pasangan
suami istri sampai bagaimana mengatur ekonomi rumah tangga.
Aku sangat menikmatinya, hampir setiap saat aku tertawa,
karena begitu sadar betapa konyol yang aku lakukan saat itu, mendengar seorang
pembicara menyuruh kami mempraktekkan cara berkomunikasi antara suami dan istri yang baik dan benar dengan cara berpandang2an sambil mengeluarkan kalimat manis
terhadap pasangannya. hihihihi…lebih konyolnya lagi, aku dan pasanganku pun
melakukannya.
setelah mengikuti kursus tiga hari berturut-turut
dari Kamis sampai Sabtu kemarin, kami pun dinyatakan lulus, lengkap dengan
penyerahan sertifikat berwarna kuning lengkap dengan foto berwarna 4×6. dan
lucunya, aku dan pasanganku diberi sertifikat terpisah, jadi seandainya pun aku
tidak jadi menikah denganya, aku masih bisa menikah dengan orang lain dengan
sertifikat itu. Huahahaahahahahahahahah
Iya sayang…Akhirnya…Kita mengawalinya.
(the photo was taken two weeks ago, after i just got back from a business trip in Puncak. my boy friend showed me this then i just could not help it, i took this picture only using my Treo…it was hilarious because the sign was posted right at the Gang Pesantren, where my house could be accessed through that street)
hiihihihihi, just another Ika and Keliek, yup Keliek with additional "e" in the middle, that’s my Keliek
Entries (RSS)