Archive for June, 2007

Minggu
lalu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mendapat empat undangan
pernikahan sekaligus..satu dari temanku di SMA, satu dari teman gereja, satu
dari seseorang yang tidak begitu kukenal dan seorang lagi dari mantan editorku
di kantor lamaku.

Fiuuuh, the
wedding bell is definitely in the air, Ka!

 

Dan aku?
Hihihihihihihi

 

Aku pun
merasakannya. Bermula 2 minggu lalu, ketika iseng mendengar pengumuman dari
gereja tentang adanya kursus pra nikah, aku dan my life time partner pun
sepakat untuk ikutan. “Pengen tahu ajah seperti apa sih kursusnya,” niatnya
waktu itu.

 

Tanpa tahu
kapan kami akan menikah, kami pun mengikuti kursus kilat tiga hari itu.
(Superduper kilat bukan? Huahahahaha, ini makanya aku memutuskan untuk memilih
cara Katholik daripada versi Kristen Protestan ala Gereja Kristen Jawa (GKJ)
yang birokratis dan lelet ituuu.)

 

Iyah,
sebenarnya, tujuan orang2 itu ikutan kursus pra nikah adalah untuk mendapatkan
izin surat menikah (SIM) dari gereja, lucu bukan, bagaimana agama bisa
mengintervensi kehidupan personal umatnya? Untuk GKJ, setiap orang butuh waktu
6 bulan untuk dapat dinyatakan lulus dan bisa menikah…Fiuuuh, sempet berpikir
cara Islam yang ga perlu kursus, tapi sayangnya aku bukan orang yang bisa
berdoa lima kali sehari sih…

 

Dan untuk
mendapatkan SIM itu, yang perlu dilakukan adalah mendengar, iyah mendengar
saja, dan jadilah orang normal (teringat olehku ketika Pastur Bruno yang
mendelik ketika mendengar jawaban kami tentang ayat di alkitab yang menjelaskan
awal mula konsep pernikahan di kitab Kejadian, karena waktu itu kami sepakat
bahwa manusia bersepakat untuk menjadi satu (baca: menikah) agar bisa
mendominasi alam semesta ini…huahahahhahaha)

 

Lebih mudah mendengar sebagai orang normal ketika
mengikuti materi yang mengawang-awang itu. Tapi untungnya selain materi yang
sangat surgawi itu, kami pun diberi materi yang lebih manusiawi yakni tentang
seksualitas. aku tahu sekarang gimana
caranya bikin anak cowok, tahu apa itu erogen (bagian-bagian tubuh yang mudah
terangsang), tahu berapa ukuran normal penis, dan tentunya jadi tahu
macam-macam posisi bercinta.

 

Kamipun diberi tahu cara berkomunikasi sebagai pasangan
suami istri sampai bagaimana mengatur ekonomi rumah tangga.

Aku sangat menikmatinya, hampir setiap saat aku tertawa,
karena begitu sadar betapa konyol yang aku lakukan saat itu, mendengar seorang
pembicara menyuruh kami mempraktekkan cara berkomunikasi antara suami dan istri yang baik dan benar dengan cara berpandang2an sambil mengeluarkan kalimat manis
terhadap pasangannya. hihihihi…lebih konyolnya lagi, aku dan pasanganku pun
melakukannya.

 

setelah mengikuti kursus tiga hari berturut-turut
dari Kamis sampai Sabtu kemarin, kami pun dinyatakan lulus, lengkap dengan
penyerahan sertifikat berwarna kuning lengkap dengan foto berwarna 4×6. dan
lucunya, aku dan pasanganku diberi sertifikat terpisah, jadi seandainya pun aku
tidak jadi menikah denganya, aku masih bisa menikah dengan orang lain dengan
sertifikat itu. Huahahaahahahahahahahah

Iya sayang…Akhirnya…Kita mengawalinya.Photo_060907_002
(the photo was taken two weeks ago, after i just got back from a business trip in Puncak. my boy friend showed me this then i just could not help it, i took this picture only using my Treo…it was hilarious because the sign was posted right at the Gang Pesantren, where my house could be accessed through that street)

hiihihihihi, just another Ika and Keliek, yup Keliek with additional "e" in the middle, that’s my Keliek

Comments 10 Comments »

Anda penikmat film Indonesia?

Fiuh, saya sudah lama berhenti menjadi penikmat  produk-produk seluloid buatan anak negeri selama kurang lebih dua tahun yang lalu.
saya sudah patah hati dengan film-film buatan dalam negeri yang begitu-begitu saja, kalo gak film yang menye-menye (tahu kan film percintaan yang udah ketebak endingnya di awal cerita..itu lho film yang castingnya permain baru yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng serta rela dibayar murah..hihihi dan tentu saja harus gampang nangis karena hampir di setiap scene pasti ada adegan nangisnya), film yang bernuansa gaib bukan dari sisi tokohnya saja, yang menghadirkan makhluk seperti kuntilanak, gendurowo, tuyul, tapi juga script-nya yang gak kalah ajaib karena logika yang terbangun mawut2an…

Iyah saya sudah berhenti jadi penikmat film.
saja jarang pergi ke bioskop untuk film Indonesia, karena sebagai seorang konsumen saya merasa dirugikan. Lebih baik saya nonton film Hollywood yang ketahuan menghibur daripada menonton film yang membuat saya  marah-marah sehabis menonton.

Tapi kemarin sebuah film sempat membuat saya mencoba untuk memberi kesempatan untuk film Indonesia. Ajakan seorang teman menggoda saya untuk pergi ke bioskop untuk menonton garapan terbaru Riri Riza "3 Hari Untuk Selamanya"

"Reng, kalo film ini ternyata jelek, gw janji ga mau nonton film Indonesia lagi," kawul saya. Teman saya yang sinis itu pun menanggapi,"Yakin loe? kalo ada film Indonesia lagi, gw ga bisa ngajak loe dong nonton,".."Yakin gw!" kata saya

Tapi dibalik perasaan underestimate itu, saya punya harapan besar terhadap Riri Riza. Saya berharap dia bisa mengubah saya dari pembenci film Indonesia menjadi penikmat film Indonesia. Toh, dirinyalah yang pertama kali membuat saya jatuh cinta dengan film Indonesia dengan debut-nya Ada Apa dengan Cinta, yang saya tonton dua kali..IYAH DUA KALI!!   

Hari Sabtu, selepas lelah pulang dari liputan di Puncak..saya mengajak ojek cinta untuk menonton film itu setelah sebelumnya dua teman saya mewanti-wanti supaya saya jangan overexpected dengan film itu.

Tapi saya ingin membuktikannya sendiri…

dan akhirnyaaa…

lagi lagi

saya kecewa…

Iyah mungkin saya terlalu overexpected, karena kupikir film yang  diakui  sebagai  road movie  gagal memberi tampilan2 sinematografis yang memanjakan mata…saya hanya bisa menghitung 2 lokasi pengambilan gambar yang bisa disebut indah, sisanyaaa  nol besar… Belum lagi dialog2 nya maksa dan tidak cerdas..(sempat bingung karena katanya film ini 90 percen adegannya adalah dialog, tapi mana dialognya???karena selama perjalanan salah satu tokoh lebih banyak tidur dari pada ngobrol)..dan mas Nico..duh kamu bener2 mengecewakan saya dengan aktingmu yang sangat standar (sempat bingung ini Rangga atau Gie atau Johny yaaah) apalagi dengan dengan dialogmu "Cewek, godain kita dong," duh duh duh…belum lagi beberapa gambar tokoh dan gambar yang ga perlu..belum lagi..belum lagi…

dan saya pun berdebat dengan ojek cinta di perjalanan pulang, karena menurutnya film itu bagus…kami berdebat dengan sangat keras, sampai kemudian  perdebatan itu membuat saya sadar bahwa saya selama ini selalu menjadi penikmat film Indonesia, karena saya punya cara sendiri untuk menikmatinya..yaitu dengan "membencinya"

dan Reng, gw mau kok nonton film Indonesia lagi…

Comments 5 Comments »

Mungkin saja saatnya  tidak tetap.

Tapi jika saja aku mampu membaca isyarat awal dengan lebih cerdik, mungkin aku bisa menghemat Rp65,000 dan leluasa beristirahat di singgasana kamarku.

Sehari setelah divonis dokter kemungkinan aku kena typus dan gubernur Jakarta yang terhormat digrebek di kamar tidurnya di Australia, aku nekat pergi ke kedutaan negeri Kangguru itu untuk menghadiri yang namanya Journalist Workshop.

Huh, dari awal juga udah merasa ga enak. acara pagi hari itu membuat aku harus mandi (padahal lagi males namanya mandi), sang ojek cinta pun tidak bisa menemani karena super sibuknya. Fiuuuuh tapi kemudian terlintas bayangan managing editorku berkata, "Ika besok datang yah..lumayan kan dapet ilmu gratis. Nanti kamu, Odit dan Witri yah…" Iya iya iya iya…dan melajulah aku dengan abang ojek depan gang rumah karena aku ingin mengejar waktu.

Tuh kan benar, setibanya disana ternyata namaku belum ada di daftar undangan..dan akibatnya aku pun tak boleh masuk. Monyet benar Australia dengan sikap paranoidnya. Satpam-satpam penjaga pintu pun sama sekali  tidak membantu, mondar-mandir tidak ada juntrungan memegang handy talky-nya. Seorang wartawan yang bernasib sama pun berucap, "Gila masa The Jakarta Post ga bisa masuk, kurang ajar banget!," aku pun hanya tersenyum miris, berusaha menghiraukannya. Menelepon orang kantor, sekretaris redaksiku belum datang juga. Huuh.

Tapi akhirnya aku pun diperbolehkan masuk. (berjalan dari pintu masuk ke ruangan seminar dan melewati pintu besi dan penjagaan yang super duper ketat, sambil menggerutu, aku berkata "semoga tempat ini di bom semoga tempat ini di bom")

Dan akhirnya…tuh kan benar, ternyata seminarnya pun tidak menarik, pembicaranya membosankan, tidak inspiring..benar kata temanku, seharusnya mereka menghadirkan wartawan Tempo, yang terkenal sangat ulet untuk mendapatkan informasi.

Tuuh kan benar lagi..seminar itu benar2 kacau, karena sebelum acaranya selesai, tiba seminar harus dibubarkan karena segerombolan orang berdemo di depan kedutaan. Fiuh benar-benar paranoid orang-orang itu..kan tidak ada hubungannya  antara kursus jurnaslitik  dengan tuntutan pendemo2 itu…

tidak bisa menahan tawaku melihat petugas-petugas keamanan disana ketika aku berjalan keluar.

Sampai diluar, aku pun melihat gerombolan orang –sebenaranya tidak layak disebut segerombolan karena jumlahnya sedikit sekali — berteriak -teriak.

Hancurlah pagiku!

(ada saatnya menuruti isyarat hati untuk tidak pergi kesuatu tempat…)

psst: tapi toh ada yang menghiburku…dua makhluk indah Ralph Tampubolon dan Randy Salim, yang duduk di sampingku…huahahahahahha, dan tentu saja melewati sarapan pagi bubur ayam dan menggantinya dengan ayam Wendy’s ditemani Odit dan Witri

Comments No Comments »