fiuuh, lega juga akhirnya mengetahui bahwa ada harapan buat film Indonesia…
hari minggu kemarin, aku nekat nonton film terbaru Nan T Achnas, the photograph sendiri. Iyah sendiri, setelah tidak berhasil mengajak siapapun untuk menemani didiriku…
Setelah terburu-buru menyelesaikan sebuah artikel, aku pun langsung melesat menuju the Blitz, ditemani sang tukang ojek depan kantor…
Semua perjuangan yang tidak sia-sia.
Filmnya bagus. (bukan bagus banget lho…hehehehe)
Meski ada beberapa yang bolong disana-sini, tapi secara keseluruhan okelah.
Dari sisi pemain, emang ga sia-sia sang sutradara sampai harus memilih aktor singapura untuk memerankan pemeran utama. tapi emang cocok banget, gesture-nya paaaaaaaaaaas banget dalam memerankan tokoh pendiam itu. meski sayang diakhir cerita, dia jadi tampak lebih cerewet, (dan menghancurkan karakternya sendiri karena logat bukan Indonesia-nya jd terlihat)
Untuk si shanti, keren! meski terlihat canggung dengan logat Jawa buatan, tapi lama-kelamaan kecanggungan itu seolah-olah melebur dalam karakter Sita.
Gambar-gambar di film ini juga memanjakan mata. cantik-cantik! top
jempol buat tim artistiknya yang berhasil menciptakan nuansa
dalam film tersebut.
Dari segi cerita , alurnya rapi, dan benang merahnya terlihat jelas. sang sutradara berhasil membuat benang merah yang cantik dengan menggunakan narator Si Yani, anaknya Sita yang memulai film dengan dinding kusam penuh dengan bingkai foto, dan mengakhirinya dengan dinding kuning cerah dan hanya satu bingkai foto.
And the love scene is just beautiful. waktu Sita dan tuan Tan dikamar. Sita berusaha menolong pak Tan yang kewalahan dengan penyakit yang dideritanya. membuka bajunya. mengelap keringat. dengan penuh daya pak Tan menolak sentuhan si Sita. namun dia tak kuasa, dan akhirnya memeluk Sita dengan eluhan nafas yang hebat. Adgean keren untuk sebuah orgasme!
Klimaksnya oke banget dan berhasil membuatku menangis. (salah satu indikator sebuah film bagus atau tidak adalah ketika film itu berhasil menumpulkan daya kritikku dan memaksa emosiku menyatu dengan jalan cerita). dan film ini berhasil.
Namun tak bisa kututupi beberapa kecewaaan, karena kupikir film ini adalah film yang akan bercerita dengan gambar dan sedikit dialog, tapi ternyata tidak. Nan berhasil melakukannya di awal cerita, tapi jadi sedikit cerewet dan akhirnya memaksa tuan Tan untuk berbicara.
Film ini berhasil juga membangun logika sendirinya sehingga jenis foto pake kilat dan nikon manual jadi nampak tidak aneh, karena kupikir film ini berhasil menciptakan konteksnya sendiri. (sama seperti film Janji Joni yang kupikir berhasil membuat logikanya sendiri, jadi rentang waktu yang digunakan di film itu menjadi sah-sah saja, meskipun jadi nampak aneh kalo dibandingkan dengan dunia nyata. tapi logika dunia nyata beda dengan logika yang dipakai di film janji joni)
Film the Photograph hampir berhasil melakukannya, sayang sekali di sebuah adegan ketika si Sita menelepon, tiba2 si sutradara mencoba membawa Sita di dunia kekinian lewat no. telepon sambungan langsung jarak jauh yang dia pencet 0273-….
Belum lagi bagaimana si Germo mati, menurutku sedikit aneh dan mengantung.
Belum lagi ada sebuah keganjilan di klimaks yang hampir memancing reaksi kritikku, ketika aku bertanya dari mana si Sita yang tidak tahu bagaimana menggunakan kamera itu mengetahui ada tombol self-timer…
uugh..sudahlah
Izinkan aku menangis.
Izinkan aku menikmati film ini.
nb: guys sory for being a spoiler, but i just couldn’t help it…:)
Entries (RSS)