Archive for August, 2007

Setelah kecewa karena batal pergi ke Wina, sebuah undangan datang dari sebuah perusahaan minyak dan gas milik negara (baca: Pertamina) untuk meliput sebuah acara energi di Singapura…

emang jauh banget sih membayangkan dari Wina yang nun jauh di Eropa, dan pindah ke negara kecil yang jaraknya cuma satu setengah jam dari Jakarta.

Yah, dengan perasaan penuh penyesalan dan paksaan seorang rekan, aku pun berangkat.

Berasa ga enak dari awal, dengan undangan yang tiba-tiba, dan jadwal pesawat yang mendadak, aku dan reva pun pergi dengan membawa misi berat: membuka jalan buat teman-teman yang lain agar bisa liputan di luar negeri atas undangan Pertamina (dan apesnya perjalanan berikut adalah ke Wina..huuh, kenapa bukan aku sih).

Dan benar, mimpi buruk pun jadi kenyataan…pesawat di delay hampir dua jam tanpa ada pemberitahuan, sampai di Singapura hampir tengah malam, dan bukannya mendapati hotel empuk dan air hangat bath tub, kami malah terdampar di sebuah kos-kosan di belakang jalan Orchad dengan hanya satu kamar mandi  untuk tujuh kamar. Baju renang dan perlengkapan fitness yang ada di dalam koper pun jadi sia-sia.

Kami pun tertidur, berusaha menyakinkan diri kami sendiri bahwa  ini hanya mimpi.

Esoknya, kami pun berangkat sendiri ke tempat liputan, tidak ada sama sekalipun orang dari Pertamina yang mengawal..pokoknya kami urus semua sendiri, jadwal wawancara, acara makan, transportasi.

Untung saja Reva mengenal kota ini, berkat seorang temannya, kami pun bisa pindah ke hotel yang lebih baik…

dan kami pun bisa mulai menikmati rasanya ditelantarkan.

bisa jalan-jalan di Orchad sepuasnya, bisa makan di tempat aneh, bisa belanja di sana-sini, bisa membatalkan acara wawancara karena kami lebih memilih trip wisata yang sudah dijadwalkan…

Huahhahahahhaha..seru seru!

mungkin tidak seindah di Wina, tapi pengalaman lima hari ini sangat menyenangkan..

thanks Reva, my shopping guru!
hihihihihihihi

Comments No Comments »

Hi, mungkin kalian tidak mengenal saya..tapi mungkin anda mengalami kisah-kisah menyedihkan yang sama seperti saya.

Ingat kan rasanya, harus menunggu lama sekali, ketika akhirnya satu-satunya bus yang membawa warga Ciledug ke "kota" itu akhirnya tiba? Atau menunggu ketika bus itu harus anteng berdiam di sebuah spot untuk menunggu penumpang=penumpang lainya, dan menghabiskan waktu lima menit, sepuluh menit, lima belas menit tanpa bergerak dengan tatapan kosong kearah kenek yang terus-terusan berteriak.

Ingat kan ketika menyadari bahwa ternyata kita ingin menaiki bus itu sering kali  sudah tidak ada tempat kosong tersisa, dan mengharuskan kita berdiri di selasar tengahnya.

Sama sakit hatikah anda, ketika kenek bis itu berteriak-teriak memaksa kita terus merapat, demi untuk penumpang baru yang terus saja berdatangan tanpa henti, hingga membuat kita hampir-hampir tidak dapat bergerak, atau tepatnya hampir-hampir tidak dapat bernapas.

Tahu kan susahnya menjaga keseimbangan di tengah peluh orang, ribetnya meraih tongkat besi  itu, agar jangan terjauh.

Anda pasti juga sebal ketika harus berdebat dengan kenek-kenek preman yang otaknya hanya memikirkan duit tanpa keselamatan penumpangnya, hanya untuk mempertahankan sepetak ruang tempat anda berdiri.

Belum lagi dengan tingkah laku si supir bodoh yang tetap merokok meski larangan merokok dia atas bis jelas terpampang di atas kepalanya. Supir bodoh tidak bertanggung jawab, yang suka ngebut dan kemudian mengoper penumpangnya ke bis lain.

Huhuhuhuhu…

Tidakkah kita berhak atas sedikit kenyamanan?

Bisakah kita melakukan sesuatu untuk memperjuangkan hak kita sebagai penumpang yang sudah membayar Rp 5000?

Comments 2 Comments »

Aku benci berbohong. Dan aku benci orang-orang yang suka berbohong. Untuk alasan apapun.

Tapi malam itu aku berbohong: untuk sebuah alasan.

Selepas malam, sehabis ber hahaha-hihihi dengan Nisa dan Esha di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Ojek Cinta dan penumpang setianya beranjak pulang ke daerah Ciledug.

Melewati rute biasa: Menteng-Thamrin-Jend. Sudirman.

Karena sudah tengah malam, di daerah sekitar Plaza Semanggi, ojek cinta pun memutuskan untuk memasuki jalur yang biasanya dilewati oleh mobil.

Dan benar saja, seorang polisi (sebut saja setan 1) dengan  sigapnya sudah berada di samping kami dengan motor besarnya dan memaksa kami untuk minggir.

EXT-MALAM- Jalan Jend. Sudirman dekat Polda.

Setan 1: (tanpa berbasa-basi dengan sapaan "selamat malam, pak!" polisi itu langsung memeriksa plat belakang motor bernomor AB …) Plat apa ini? palsu yah?"

Ojek Cinta: Ga pak, ini asli saya dapatnya dari kantor polisi di Jogja.

Setan 1: Enggak mungkin asli? ini pasti dibuat di pinggir jalan yah? (sambil menarik-narik plat motor)

Ojek cinta:  Bener pak. Duh pak jangan di"ongkek-ongkek" gitu dong, nanti rusak.

(aku tetap duduk manis diatas jok motor sambil menahan kesabaran memperhatikan lagak polisi kurang kerjaan itu)

Setan 1: Jangan bohong anda, kalo asli pasti ada stikernya. Ga mungkin polisi mengeluarkan plat seperti ini.

Ojek cinta: Ya udah gimana deh pak, saya dibantu ajah.

Setan 1 terdiam dan mulai mengeluarkan kertas tilangnya.

Aku yang memang sudah kepayang menahan sabar ini, berucap: "Pak, bisa liat surat tugasnya? dari satuan apa?"

Setan 1: maksud anda?

Aku : (sambil sedikit berteriak) yah mana surat tugas bapak, nama bapak, dari satuan apa?

Setan 1: apa nih maksudnya? ini surat saya. anda jangan macam-macam yah (sambil mengeluarkan secarik kertas putih.

Waktu itu kuakui aku memang sedikit berimprovisasi, tidak tahu harus apa,  aku pun sok tahu, : "sat wal itu apa? wewenang bapak menilang kami apa?"

Setan 1: sat wal itu Satuan Pengawal

lagi-lagi sok tahu, aku memotong : lho bapak ga punya wewenang untuk menilang kami, karena bapak bukan polisi lalu lintas.(membentak dan berteriak)

Setan 1 : saya punya wewenang, saya bertugas untuk menindak siapa yang salah di jalan. saya bertugas mengawal (tak kalah membentak dan berteriak)

aku: lho bapak kan bukan polisi lalu lintas? kok bisa2nya menilang kami.Bapak ga punya wewenang

Setan 1: Jangan kurang ajar yah anda, maksud anda menuduh saya seperti itu apa?

Aku: SAYA TAHU SOALNYA SAYA PERNAH LIPUTAN DI POLDA. BAPAK JANGAN MACAM-MACAM YAH.(sumpah saya tidak pernah marah dan berteriak sekeras itu terhadap orang)

Setan 1:  (setelah cukup terhenyak) Anda gimana, masa wartawan ga tahu saya ini polantas (sambil menunjukan badge di bahu kirinya).

Duh, mati kutu aku.

Ojek Cinta: Udah deh pak, gimana caranya bapak bisa bantu kami.

Setan 1: Mana SIM dan STNK? (setelah ojek cinta menyerahkan SIM dan STNK-nya, polisi itu sibuk dengan kertas tilangnya) sebentar saya pindah dulu, disini terlalu gelap.

Beranjak maju sekitar 50 meter, si polisi nampak kepayahan membawa motor besarnya, bahkan polisi yang nampaknya mabuk itu dua kali terjatuh ketika mengiring kendaraannya.

Ojek cinta: Bapak mabuk yah?

Setan 1: (sambil mendorong ojek cinta dan hampir memukul) maksud anda apa? saya mabuk?

Aku: HEH HEH JANGAN MACAM-MACAM YAH, NANTI SAYA LAPORKAN. KALO MISALNYA GA MABUK YA UDAH..(aku berteriak sambil mengacungkan telunjuk ke mukanya)

Tiba-tiba dia mundur, dan kemudian asik sendiri mencari-cari sesuatu. aku udah bosan menunggu, bertanya: ya udah lah pak, kalo mau ditilang-tilang ajah, saya ga punya waktu.

Setan 1: iyah saya sedang mencari STNK anda, tadi saya pegang terus terjatuh.

Aku: lho, terus gimana?

Setan 1: Saya sedang berusaha mencari ini.

Aku: lho, salahnya bapak, kok kita yang harus menunggu. saya benar tidak ada waktu. lebih baik kita ke kantor Polda aja, toh kebetulan dekat, saya gak ada masalah.

Setan 1 terdiam sambil sibuk sendiri mencari-cari sesuatu.

Ojek cinta: ya udah pak, bikin ajah surat kehilangan ajah, nanti kita minta bantuannya.

Setan 1 diam, sambil terus mencari-cari, mengacuhkan kami.

Tiba-tiba, Setan 1: mbak, mas gini kalo saya ada salah saya minta maaf, tapi kalo anda sudah mengambil stnk-nya berutahu saya, nanti saya lepaskan deh.

Aku: enak ajah. Bapak nuduh saya. nih periksa tas saya (sambil menyerahkan tasku)

Setan 1: bukan itu saya hanya minta penjelasan, karena aneh sekali dari tadi kita disini hanya bertiga dan entah siapa yang mengambilnya.

Aku: yang jelas bukan saya.

(Ojek cinta sibuk sendiri menggeledah tasnya dan dompetnya)

Lalu tiba-tiba, muncul polisi 2 yang nampaknya adalah atasan setan 1, kita sebut saja setan 2.

setan 2: ada masalah apa ini?

setan 1: bla bla bla bla..(bernada mengeluh) kami hanya bertiga disini dan tiba-tiba stnk hilang…

aku: NIH, GELEDAH TAS SAYA, SILAHKAAAN (aku menyodorkan tasku ke dua polisi itu)

setan 2: anda jangan kurang ajar, jangan kurang ajar, jangan kurang ajar.

setan 1: iyah bos, ini mbak wartawan yang cantik ini dari tadi marah-marah terus, saya sampai tidak habis pikir.

dan tiba-tiba setan 2 terdiam.

setan 1 pun kembali sibuk mencari-cari STNK sampai ke seberang jalan.

sementara setan 2 pun dengan lemah lembut menanyakan apakah kami sudah mendapatkan STNK-nya, karena kalo sudah biar dia yang bilang ke setan 1 supaya masalah bisa segera selesai, karena jika tidak, tanpa STNK, kami tidak akan diperbolehkan pulang.

Ojek cinta: bisa gak sih pak, dibantu nulis surat kehilangan ajah, saya anggap saja sebagai halangan.

setan 2 pun terdiam. dia pun menghampiri setan 1, diikuti oleh aku dan ojek cintaku.

Setan 1 (masih menggerutu sambil terus memaksa kami mengaku bahwa kami yang mengambil STNK-nya) akhirnya memberikan SIM ojek cinta yang ditahannya.

Aku: ya udah, nanti kalo mau ngurus surat kehilangan, bisa mohon bantuannya. bisa minta nama, dan no telpon. (tanyaku pada setan 1, yang marah-marah sendiri tidak karuan sambil menendang-nendang sepeda motornya)

Aku: Pak bisa no. nya pak?

Setan 1 mengacuhkanku lagi.

Aku: bapak bisa bantu kami mengurus surat kehilangan kalo mau ngurus di polda? saya minta no.nya. (tanyaku pada setan 2)

Setan 2: mending dengan rekan saya saja.

Ojek cinta: ya udah jadi gimana pak? nanti saya lapor ke polda aja langsung?

Kedua setan itu tidak ada yang membeli respon.

Aku: ya udah, ini kartu nama saya, nanti bapak hubungi saya kalo sudah ketemu. (aku sambil menyerahkan kartu nama The Jakarta Post)

Setan 2: (tiba-tiba berucap) ya udah, kamu bantu saja mbak sama mas ini, bawa ajah ke kantor untuk buat laporan

Setan 1 tetap cuek dan masih sibuk mencari.

Aku: ya udah pak, karena dia nampaknya enggan, saya pulang dulu, besok pagi saya lapor kesini, tapi kalo udah ketemu silahkan hubungi saya.

Ojek cinta dan penumpangnya pun langsung menuju motor dan segera  ingin melanjutkan perjalanan.

Setan 1: (tiba-tiba berucap) mas, kalo lapor ga usah bilang kalo hilang disini, mas bisa lapor ke polsek juga…

Ojek cinta: baik pak.

Kami pun melenggang bebas tanpa ditilang. Sekitar 200 meter dari situ, lepaslah tawa kami, karena STNK itu tersimpan manis di bungkus Macbook di dalam tas ojek cinta. Yah, ojek cinta berhasil mengambilnya dan menyembunyikannya, waktu polisi itu terjatuh.

HUAHAHHAHAHAHAHA, dan aku sudah tahu dari awal. dan yah aku berbohong, untuk sebuah alasan: setan polisi brengsek!

I got you this time, mr policemen…

for my ojek cinta: You are such a great partner for me…You complete me!

Comments 7 Comments »

akhirnya hampir seminggu penuh dalam kediaman, dan cukuplah sudah.

Aku tidak pernah mengomentari sedikitpun tentang sikapmu, lagak dan tingkah lakumu.

Tidak pernah merasa terusik dengan janji-janji manis yang kamu obral lewat untaian manis yang terdengar di setiap pojok kota, meskipun aku tahu bahwa itu semua hanya bohong belaka.

Aku juga tidak merasa keberatan dengan segala tingkah lagu busukmu dibelakangku, yang dengan rela hati kalian lakukan demi mendapatkan apa yang kalian inginkan.

Tidak pernah. tidak pernah sekalipun!

Tapi tidak hari ini, Bajingan!

Kau membuatku terjebak macet selama dua jam dan membombardirku dengan sebuah pertanyaan:
Bosen Macet? Ayo benahi Jakarta!

SOMPREEEEEEEEET!

Bersatu dalam Keragaman?

TAIIIIIK KUCiiiiiiiiiiiiiiiiNG!

-ika, penduduk Tangerang yang tinggal di Ciledug.

Comments 2 Comments »