sabtu minggu lalu, "my morrie", seorang teman dan juga dosenku waktu kuliah, tiba-tiba men-sms…

"Hei…apa kabarmu?"

Aku terlalu sibuk ketika itu, memilih handle pintu untuk rumahsenyumpagi, jadi kuhiraukan saja dan berpikir, aaaah biar kubalas nanti.

Tiba-tiba dia menelepon, memberitahukan bahwa dirinya sedang ada di jakarta.

Sebuah pertemuan pun dirancang.

Hari kamis kemarin, setelah menyelesaikan tugas-tugas penulisan..aku pun segera meluncur ke daerah Cikini, kesebuah kedai kopi yang cukup nyaman.

Dan disanalah dirimu, duduk di sudut ruangan, membaca buku.

"Hai," ujarku…dan percakapan basa-basi pun terbangun.

Namun belum sampai lima detik, kita sudah berdebat tentang sebuah undangan yang dikirim lewat imel.

Iyah, kau menggugat konsepku, menyebutku kuno. Aku mendebatmu, aku berteriak. Kamu bilang berkali-kali, "aah ada yang tidak beres dengan otak kita, kita seharusnya menata ulang kembali," Aku mencibirmu, menolak usulanmu.

Coffee float ku pun datang.

Pembicaraan pun bergeser tentang apa yang membawamu datang ke ibukota. Sebuah penelitian, katamu. Penelitian tentang "freedom of the press". Aaaaahhh, freedom of press is just a crap, bullshit, ujarku. Kamu menjelaskan kedatanganmu kesini dengan dosen-dosen komunikasi yang lain, berusaha menelusur konsep itu, yang menurutmu perlu diubah. Aku terdiam. Malas membicarakan pekerjaan.

Aku menanyakan seorang dosen yang kutidaksukai (baca: benci) kok bisa masih di jurusan. Kamu pun membelanya, mengatakan itu memang tidak terhindarkan, "semua seperti itu, tidak apa-apa kalau tidak ketahuan," Aku hanya bisa  memendam  rasa tidak percaya.

Datanglah chicken wings-ku

Kamu bertanya tentang film "Broken Flowers" apakah aku pernah menontonnya. "Tentu!," Lalu kamu bertanya, "Apa yang kamu dapat dari sana," Fiuh, berpikir keras berusaha mencari jawaban yang cerdas, kamu pun berucap," tidak ada jawaban yang bodoh, Ika,"

Kami pun membahas film itu. Fiuh, dan sekali lagi kamu menohokku, dengan pernyataan, "berpikirlah lebih dalam dong, Ka," Fiuuuhh…

"Mbak, tolong dong, ayamnya kurang kering, tolong digoreng lagi yah," aku memanggil seorang pelayan.

Lalu pembicaraan pun melompat ke tema-tema yang sangat abstrak, tentang cinta, rumah tangga, rumah baru yang tidak akan pernah menjadi, masa lalu…

kamu pun membawaku terbang, melayang, mengawang-awang…membawaku pergi jauh dari rutinitas perbuatan dan logika keseharian…

aku merasa bodoh, bodoh, bodoh dan bodoh sekali…

tapi aku menikmatinya.

terimakasih, sampai bertemu lagi, teman!

dan kupastikan kamu akan mendapatkan undangannya, lengkap dengan semua yang kau anggap kuno ituh…hihihihihihi

4 Responses to “bahagia menjadi bodoh…”
  1. Ika, siapa temanmu itu? Aku ingin kenal juga.

  2. besok yah Dit, kelak akan aku kenalkan dirimu dengan nya…

  3. yak! gue setuju kalo kebebasan pers itu hanya teori yang kita pelajari waktu kuliah. di media apapun seseorang bekerja. hehehehe

  4. bentul banget tuh Ka…huhuhu kangen ama loe

Leave a Reply