Aku paling males ke salon, karena menurutku ke salon menciptakan suatu ketergantungan yang tidak sehat, ketergantungan untuk merawat diri yang jadinya dibuat-buat…
potong rambut? apakah perlu ke salon?
Luluran? apa perlu mbak-mbak itu
membersihkan kuku dan kaki? perlu dipotongi juga
Aku memang bukan orang yang rajin merawat diri, bukan tipe orang yang suka menyisir rambut dan mandi dua kali sehari, tapi aku pastikan aku bukan orang jorook koook…
bisa memotong kuku2 kaki dan tangan ini, dan memastikan supaya tidak ada kotoran hitamnya, secara teratur menggosok badan ini setiap mandi (mandi dua kali menurutku buang2 air saja), dan aku (ini nekat siih) pernah memotong rambutku sendiri, dan mengganggap hasil potongannya beda dan kereeeeeeen banget hehhehehehe
Tapi, kemarin demi misi tampil istimewa di hari istimewa, aku pun pergi ke salon terdekat, ga mau kalah dengan Reva, yang baru saja mengambil paket calon pengantin di salon dekat rumahnya meski dia tidak ada persiapan menikah dalam waktu dekat…
Dan masuklah aku ke salon, yang kebetulan bernama "Cantik"
"Pagi, MBa..mau apa?" tanya mbak berjilbab ungu..
"Mmm…lulur dan facial mba!," ujarku mantap hehhehehe (FYI, ini pertama kalinya aku facial)
Dan diajaklah diriku pergi ke lantai 2 oleh mbak Limah untuk menikmati lulur susu plus srub blablabla ..
"Iya mbak, ganti baju duluuu..mbak bawa celana dalam?"
"Bawa, ini saya lagi pake?" ujar ku dengan bodohnya
"Gak bawa ganti?" tanya lagi, sangat serius dan sama sekali tidak tersenyum
"Gak tuh," ujarku
"Ya udah, mau beli disini, harganya 5,000?" ujar mbak Limah
"Ya udah ga pa2," sambil sebelumnya menghitung uang yang pasa2an yang ada di dompet. Fuck, sepertinya harus dipasang dong pengumuman, "Bawa serep celana dalam kalo mau luluran"..hihihi tapi lucu juga kalo ga jadi luluran di salon gara2 ga bawa celana dalam
dan muncullah kegoblokan lainnya
"Mbak, ini beneran dicopot semua," tanyaku kesekian kalinya memastikan.
"Iyah mbak.."
dan benar deh sepanjang dilulur, aku benar2 telanjang kecuali memang satu helai celana dalam plastik yang baru saja kubeli itu. Huh..dalam hatiku aku memutuskan untuk benar2 tidak percaya pada televisi, yang menyajikan gambar orang dipijat dengan nyaman di paket-paket kecantikan yang ditayangkan di televisi, cewek-cewek yang nyaman menikmati pijatan sambil memakai handuk ituuuuuuuu….
setelah hampir dua jam…selesai semua ritual lulurannya, aku pun sudah ditunggu mbak Erna untuk facial
Shittttttttt, alamak sakit banget..kenapa sih orang banyak melakukan facial? rutukku dalam hati. Mbak Erna yang tenang, diam, tanpa emosi pun seperti tidak mampu menjawabnya, keasikan mencabut dengan komedo yang menumpuk di hidungku…
Tiga jam pun usai…
aku pun melihat diriku di kaca yang terpampang di pojok ruangan…
"Mmmm, not bad…," "Jadi terlihat lebih bersih…" "Hihihihihi…" "Wah ga ada komedo nya lagi…" "Hihihihihi…." "Mmmm..mulus!" "Hihihihihihi"
Yah, mungkin dua minggu lagi aku akan datang lagi kesini
untuk mmmm…waxing, menicure, pedicure…
huahahahhaha…
(merasa) Cantik itu Candu…
Entries (RSS)
wah repot nih, kayaknya bakal ada yg kecanduan facial, pedi-meni, dsb nih.. hihihiii..
aku juga pernah, ka..
dari yg tadinya antipati eee..malah bisa nikmatin dan keasyikan juga.. dulu di bandung aku ketagihan hair spa di Johny Andrean Salon, la enak je.. rambut juga (keliatan) jd lebih oke.. biasanya klo ke bandung lg, kusempatin mampir ke sana..
sok metrosek ya, hihihiiii…
suwe-suwe kok gilo dewe karo awakku ^_^
cantik itu candu
bukan salonnya.. tapi ‘rasa’ cantiknya yang bikin cantik
huahahahaha…zaki…
kapan2 nyalon bareng nyuk, melihat dan menyadari betapa konyolnya kita…iyah, zak..bener-benar sadar!
sebenarnya judulnya terinspirasi sama novelnya Eka Kurniawan yang Cantik Itu Luka, bu Imel..
tapi kok ga setuju yaah,
menurutku ku Cantik itu Candu..
iyah merasa cantik itu candu..
sepakat aku!
huahahaha
bersukur udah baca ini, soalnya gw jg gak pernah luluran, facial dan medi-pedi
jadi tahu deh, kalo luluran harus bawa celana dalam ganti
huehehe