« October 2007 | Main | December 2007 »

what make you proud of your country?

Mmmm...pertanyaan sulit.

Aku sempat terdiam beberapa saat, bingung menjawab apa, ketika seorang Australia menanyakan hal itu kepadaku ketika aku di Shanghai kemarin.

Sampai akhirnya aku mengaku kalah dan akhirnya menjawab, "Aku tidak tahu,"

"Really?," dia menjawabnya, dan aku pun membalikkan pertanyaan, "apa yang  membuatmu bangga akan Australia?,"

Dia pun menjawab dengan panjang, kalo rasa bangga akan sebuah negara bisa diukur dari pekerjaan, apakah kamu sudah puas dengan berapa kamu dibayar, tunjangan-tunjanganmu, tempat tinggal,

Mmm...lantas membuatku berpikir, apa yang kira-kira negara sudah berbuat yah padaku?

Aku sudah dua tahun bekerja di The Jakarta Post, tapi sampai sekarang aku belum memahami gimana negara punya porsi penting disini.

Aku dibayar cukup di tempat ini, dan nampaknya negara juga tidak bisa melakukan apapun untuk kemudian menaikkannya, kecuali appraisal assesment tahunanku memang bagus..

dan setahuku negara malah mendapat pajak penghasilan rutin setiap bulan dari gajiku itu...

apakah aku harus bangga akan itu?

Terus tentang tempat tinggal?
aku sekarang sedang membangung rumah di daerah Cinangka, dan lagi-lagi tidak ada namanya "bantuan" dari negara

malah semuanya dipersulit, izin mendirikan bangunan harus nunggu tiga bulan, dan tentu dengan urusan sogok-menyogok, urusan listrik harus ada uang pelicin, dan belum lagi bunga bank yang masih tinggi dikarenakan tingkat inflasi yang masih tinggi, dan akhirnya membuatku malas meminjam dari bank...

jadi, bisa kan akhirnya aku tidak bangga akan republik ini..

belum lagi masalah korupsi, belum lagi masalah lingkungan, belum lagi kebodohan-kebodohan pejabat-pejabatnya...

Arrgh...

seharusnya pertanyaannya bisa kujawab dengan gampang yah...
tidak, saya tidak bangga menjadi bangsa Indonesia...









                            

menikmati kemewahan hidup di bis 608

bagi orang lapangan sepertiku, tidur siang merupakan sebuah kemewahan tersendiri...jarang-jarang aku bisa terlelap di tengah-tengah jam kerja, apalagi saat menanti narasumber lewat...

Aku memang belum sejago temanku, wartawan lumayan senior yang bisa sempat-sempatnya mencuri waktu untuk tidur siang di kamar kosnya yang tidak jauh dari kantor...

Namun akhirnya kutemukan juga kemewahan itu...

Aku sering kali liputan di kantor kementrian energi dan sumber daya mineral di daerah Thamrin, kalo dari sana ke kantor bisa ditempuh dengan beberapa cara..
yang paling gampang sih naik taksi, atau kalo mau sedikit berpetualang, cobalah panggil tukang ojek di dekat halte

tapi tidak-tidak, aku punya rute khusus, dimana aku bisa menikmati tidur siangku

Aku naik busway dari halte busway di bank BI sampai ke blok M, abis itu baru naik Kopaja 608, jurusan blok M - Tanah Abang, bis yang mengantarku menemui kenikmatan siang hari

Banyak orang menganggap itu pilihan rute yang buruk, "kan itu bukannya muter Ka?" "Bukannya jadi lebih jauh," bahkan ada juga yang berprasangka, "aaah, loe mampir ke Blok M yaah?"

Bukan teman, bukan itu..aku hanya ingin menikmati tidur siangku yang sudah dirampas oleh jam-jam kerja...

Cukup berbekal MP3 Samsung andalanku dan buku novel yang selalu rajin kubawa kemanapun, aku menyusuri perjalanan memutar itu...

Jika pada saatnya, ketika mata sudah  kreyep-kreyep, mmm pasti kenikmatan dunia sudah didepan mata...

dan terlelaplah aku di dalam bis kota..aduuuh, itu adalah kenikmatan dunia tiada tara...

tak peduli dengan goncangan-goncangan keras selama perjalanan, supir yang mengerem dan mengegas sembarangan, kenek yang berteriak sekuat tenaga, pengamen yang hilir mudik, penumpang yang sudah mulai bertumpuk-tumpuk penuh sesak..

aku dipojok jendela, terlelap penuh damai mendapati kemewahan yang sering kali hilang...

ZZZZzzzzzzz

don't get lost in Shanghai

Pepatah "malu bertanya sesat di jalan" ternyata tidak selamanya benar, apalagi jika kamu tersesat di kota Shanghai, dimana jarang penduduknya bisa bahasa Inggris dan membaca bahasa latin.

Hari pertama tiba, aku dan rekan jurnalis -- mas Baskoro dari Tempo dan mas Hermas dari Kompas-- sepakat untuk jalan-jalan. karena toh memang belum ada acara yang penting. Kami sepakat jalan ke "the bund" dan mengunjungi semacam wilayah heritage di Shanghai, yah semacam kota tuanya Jakarta deeh...

Dengan semangat 45, kami pun memulai perjalanan itu dan siap akan segala konsekuensinya: tersesat di jalan.

Yah, jikalau kami tersesat, toh bisa tanya orang, pikir kami.

Tapi tidak semudah itu bertanya di kota metropolis ini, apalagi jika kamu tidak bisa bahasa China.

Sedikit kesal setelah mendapatkan jawaban hampa dari beberapa pejalan, dengan sedikit berspekulasi, Mas Hermas, pun akhirnya mengajak kami untuk bertanya pada orang-orang muda, yang memakai dasi dan berpakaian kantor, dengan alasan mereka nampak lebih "berpendidikan"

Hihihihi..benar juga anjuran mas hermas, meski ada satu-dua dari mereka yang hanya penampilannya yang okey, tapi dalamnya ....

Singkat cerita, dengan naik subway train,  sampailah kami di The bund dan berjalan-jalan sampai ke Old Town...(jika ingin melihat foto, bisa lihat ke psychopatika.multiply.com)

Setelah puas berjalan-jalan dan foto, kami pun sepakat untuk kembali ke hotel, karena ada acara makan malam yang harus kami hadiri, dan supaya cepat, kami pun sepakat untuk mencari taksi

Dan...tidak mudah mencari taksi di sore hari di Shanghai...mereka selalu menolak kami, tanpa alasan yang jelas.

Ada supir taksi yang bilang mau makan, dengan bahasa isyarat tentunya, karena sepertinya jarang sekali supir taksi yang bisa bahasa inggris, ada juga yang langsung bilang tidak sambil melambaikan tanganya.

Kami heran, apa sih alasan sebenarnya.
"apa jaraknya terlalu jauh?", "apa terlalu dekat?" " atau apa karena mereka tidak mengerti, padahal kami sudah menunjukkan peta dan lokasi hotel kami,"

Huh. untungnya semangat bertanyaku tak surut, kami pun sepakat berjalan kaki sampai menemukan taksi..dan aku pun menemukan tuan Sky (hihihi, iyah namanya seperti komik serial cantik, dan dia memang benar2 pahlawanku hari itu)

Dengan bahasa inggris yang terbata-bata, tuan Sky yang memakai kemeja hitam (hihihihi) itu membantu kami mencari taksi...
dan sayang sekali dia gagal!

tapi dia dengan setia menemani kami, menelepon pihak hotel, dan terus mencari taksi...namun ,akhirnya dengan putus asa, dia menawarkan kami untuk berjalan ke subway train terdekat untuk sampai ke hotel kami...

Dan  terminal terdekat itu jauuh, kakiku sudah pegal sekali, aku berjalan dari jam 11 pagi, dan ketika itu sudah pukul setengah enam.

Tuan Sky berjalan sangat cepat (orang Shanghai  rata2 berjalan sangat cepat, itu makanya kamu akan sedikit sekali menemui orang yang gemuk disana..hehehehe), aku kepayahan mengejarnya...

Sampailah kami di subway terminal tujuan, terimakasih tak berkesudahan kami ucapkan kepada Tuan Sky, yang menemani kami sampai pintu masuk terminal...

tapi cerita pun belum selesai, setalah sampai di terminal tujuan yang direkomendasikan oleh Tuan Sky, kami masih harus berjalan lagi, karena ternyata lokasinya jauh dari hotel kami

dan itu menjadi sulit, karena ketika kami bertanya, lagi-lagi tentu pada
orang-orang berdasi dan perempuan bersepatu hak tinggi, dan kali ini mereka menjawab dengan jawaban yang mengecewakan.

Ada yang bilang tidak tahu. Ada yang malah menjauh, sebelum kami bertanya, ada yang menolak dan dengan singkat bilang "No English", ada yang ketakutan, karena mungkin mas-mas temanku itu menakutkan bagi mereka, bahkan bertanya pada polisi pun tidak ada gunanya karena mereka malah menyesatkan kami...

huhuhuhuhu, mas Baskoro dan mas Hermas pun mulai mengumpat!
mengutuk Cina, orang-orang yang terperangkap dalam modernitas, kata mas Hermas, yang ga peduli dengan kemajuan diluar, memilih untuk tidak berkembang...(kami baru tahu kenapa supir taksi itu menolak kami, karena mereka tidak bisa membaca tulisan latin di peta yang kutunjukkan , mereka hanya mengerti huruf China)

dan aku hanya tertawa-tawa, sambil berjongkok dan mengelus-elus kaki di setiap perempatan...

Tapi kami tidak putus semangat, tetap terus bertanya disetiap perempatan, meski setiap jawaban seringikali malah menyesatkan kami, membuat kami jadi lebih kebingungan, dan memaksa kami untuk bertanya lagi dan lagi dan lagi

Setelah berjalan lebih dari  lima belas kilometer, sampailah kami di hotel kami..

Huuuuuuuuu, jadi pengin belajar bahasa China....

Cantik Itu...

Aku paling males ke salon, karena menurutku ke salon menciptakan suatu ketergantungan yang tidak sehat, ketergantungan untuk merawat diri yang jadinya dibuat-buat...

potong rambut? apakah perlu ke salon?
Luluran? apa perlu mbak-mbak itu
membersihkan kuku dan kaki? perlu dipotongi juga

Aku memang bukan orang yang rajin merawat diri, bukan tipe orang yang suka menyisir rambut dan mandi dua kali sehari, tapi aku pastikan aku bukan orang jorook koook...

bisa memotong kuku2 kaki dan tangan ini, dan memastikan supaya tidak ada kotoran hitamnya, secara teratur menggosok badan ini setiap mandi (mandi dua kali menurutku buang2 air saja), dan aku (ini nekat siih) pernah memotong rambutku sendiri, dan mengganggap hasil potongannya beda dan kereeeeeeen banget hehhehehehe

Tapi, kemarin demi misi tampil istimewa di hari istimewa, aku pun pergi ke salon terdekat, ga mau kalah dengan Reva, yang baru saja mengambil paket calon pengantin di salon dekat rumahnya meski dia tidak ada persiapan menikah dalam waktu dekat...

Dan masuklah aku ke salon, yang kebetulan bernama "Cantik"

"Pagi, MBa..mau apa?" tanya mbak berjilbab ungu..

"Mmm...lulur dan facial mba!," ujarku mantap hehhehehe (FYI, ini pertama kalinya aku facial)

Dan diajaklah diriku pergi ke lantai 2 oleh mbak Limah untuk menikmati lulur susu plus srub blablabla ..

"Iya mbak, ganti baju duluuu..mbak bawa celana dalam?"

"Bawa, ini saya lagi pake?" ujar ku dengan bodohnya

"Gak bawa ganti?" tanya lagi, sangat serius dan sama sekali tidak tersenyum

"Gak tuh," ujarku

"Ya udah, mau beli disini, harganya 5,000?" ujar mbak Limah

"Ya udah ga pa2," sambil sebelumnya menghitung uang yang pasa2an yang ada di dompet. Fuck, sepertinya harus dipasang dong pengumuman, "Bawa serep celana dalam kalo mau luluran"..hihihi tapi  lucu juga kalo ga jadi luluran di salon gara2 ga bawa celana dalam

dan muncullah kegoblokan lainnya

"Mbak, ini beneran dicopot semua," tanyaku kesekian kalinya memastikan.

"Iyah mbak.."

dan benar deh sepanjang dilulur, aku benar2 telanjang kecuali memang satu helai celana dalam plastik yang baru saja kubeli itu. Huh..dalam hatiku aku memutuskan untuk benar2 tidak percaya pada televisi, yang menyajikan gambar orang dipijat dengan nyaman di paket-paket kecantikan yang ditayangkan di televisi, cewek-cewek yang nyaman menikmati pijatan sambil memakai handuk ituuuuuuuu....

setelah hampir dua jam...selesai semua ritual lulurannya, aku pun sudah ditunggu mbak Erna untuk facial

Shittttttttt, alamak sakit banget..kenapa sih orang banyak melakukan facial? rutukku dalam hati. Mbak  Erna yang tenang, diam, tanpa emosi pun seperti tidak mampu menjawabnya, keasikan mencabut dengan komedo yang menumpuk di hidungku...

Tiga jam pun usai...

aku pun melihat diriku di kaca yang terpampang di pojok ruangan...

"Mmmm, not bad...," "Jadi terlihat lebih bersih..." "Hihihihihi..." "Wah ga ada komedo nya lagi..." "Hihihihihi...." "Mmmm..mulus!" "Hihihihihihi"

Yah, mungkin dua minggu lagi aku akan datang lagi kesini
untuk mmmm...waxing, menicure, pedicure...

huahahahhaha...

(merasa) Cantik itu Candu...