tidak usah susah-susah memikirkan harus jadi apa…
anda bisa kok menjadi pejuang-pejuang kecil hak-hak orang, kalau anda mau…

beberapa hari waktu yang lalu, saya baru saja  melakukannya, bahkan  adik saya pun jadi pejuang lebih hebat, ketimbang saya…

Sabtu minggu kemarin, aku, adik-adikku, Ebi dan Ferlly akhirnya pergi untuk kesekian kalinya ke Dunia Fantasi (Dufan)  demi menemani adik ipar (baru)ku Bayek dan pacarnya berkunjung ke taman hiburan tersebut.

Perlu dicatat, meski Bayek sekarang tinggal dan bekerja di Singapore, dia belum pernah sama sekali ke Dufan…Jadi, Sabtu itu, sebelum berangkat ke Singapore, bayek mengajak kami kesana, dia bahkan rela menjadi supir dari anak-anak ABG ini –aku, Ferlly, Ebi dan Sinta (pacarnya bayek),– hehehehe. suamiku tidak ikut karena dia harus menghadiri pernikahan temannya di Jogja

Dan karena kesiangan, kami pun terlambat dan mendapati dufan sudah penuh sesak.

Setibanya disana kami susah sekali mendapatkan parkir, dan akhinya dengan susah payah kami mendapatkan ruang kosong di ujung belakang tempat parkir…

tapi rasa girang hanya bertahan sesaat, karena nampaknya supir mobil kijang biru yang diparkir disebelah tempat kosong itu, memarkir kendaraannya dengan tidak sempurna..karena dengan seenakjidatnya dia menaruh kendaraannya dalam  posisi miring. Alhasil, mobil kami pun tak bisa masuk…dan harus bersusah payah parkir ditempat lainnya……

Iih, gedeg bukan kepalang..siapa sih supir brengsek ini!
dan dia ternyata tidak menyusahkan rombongan kami, karena mobil lain pun mengalami nasib yang sama…

"Ini tidak bisa didiamkan,"pikirku…

segera kuambil kertas di jok belakang, dan kupinjam pulpen abang-abang penjual kacamata

lalu kutulis besar-besar, "Pak/Bu, Kalo parkir yang bener dong!!!" dan kutaruh kertas itu didepan kaca mobil nya.

Aku senang karena aku melakukan sesuatu untuk kejadian itu, dan memilih untuk tidak diam.

Perjuangan kedua dimotori adikku, Ferlly..

Dufan penuh bukan kepalang, wahana-wahana favorit selalu dipadati antrean manusia luar biasa, untuk dapat kesempatan main, pengunjung harus antri sampai satu jam…

Di wahana "arung jeram" kejadian yang tidak diinginkan pun terjadi, banyak serombolan orang-orang liar yang tidak punya aturan menyerobot antrian…
Jangan tanya, aku pun marah bukan kepalang, tapi hanya bisa berteriak-teriak tanpa hasil..karena toh dua petugas didepanku tenang2 saja…

Dan Ferlly pun lebih berani ketimbang aku…

dia menegur seorang cewek, yang dengan tanpa rasa bersalah nyelonong begitu saja, menyelak antrian.

"Mbak, ngantri dong..kasihan yang lain udah pada capek-capek ngantri," Ferlly berkata dengan nada sopan.

Si cewek bercardigan pink itu tak menghiraukan ucapan adikku, sambil tetap menggeret tangan temannya, dia berusaha maju kedepan.

sadar bahwa dicuekkin, adikku pun berteriak, "woi mbak, kasihan yang lain pada ngantri,"

Tiba-tiba mbaknya yang tak tahu malu itu tanpa diduga, membalas ucapan adikku, "Jangan nyolot dong,"

Dan kudengar perdebatan kecil diatas.

aku yang berjarak sedikit jauh, hanya bisa mendengar sayup-sayup. Cuma kulihat pemandangan aneh karena banyak orang-orang yang diserobot antriannya memilih diam saja…cuma mbak bertopi dibelakangku mencetus, "Itu lho mbanya ga mau ngantri,"

Tiba-tiba, adikku Ferlly memanggilku.."Sini mbak, loe maju dulu..loe juga,"
ternyata adikku menghalangi temannya mbak berbaju pink supaya tidak bisa maju kedepan, meninggalkan si mbak baju pink sendirian di depan…

Sepanjang mengantri, kami tak abis2nya mengomentari kedua orang itu..dan memastikan bahwa komentar kami didengar oleh mereka.

Selang berapa lama, akhirnya mbak berbaju pink mundur kebelakang, menjumpai  temannya, dan mengantri di belakang.

Dan, adikku adalah pahlawan hari itu.

2 Responses to “menjadi pejuang hak-hak asasi manusia”
  1. yeah!!!
    say yeah to sumanto’s girls!!!
    hihihihihi

  2. Aku sama istriku juga marah2 kalo ada orang kayak gitu..
    They are stupid and ignorant people..
    Banyak orang kayak gitu di Indonesia..
    They are the poster child of Indonesia..

Leave a Reply