« December 2007 | Main | February 2008 »

mimpi jadi kenyataan

sayapernahbermimpibertemupolisibaikhatiyangrelamenolongorangyangkesusahantanpapamrih,menolak suapdanmenjalankantugasnyadenganbaik

Duaaar!!! dan mimpi itu jadi kenyataan...

kemarin saya pergi ke kantor polisi tangerang, untuk merealisasikan resolusi saya tahun lalu, mendapatkan sim A

atas wejangan dari beberapa rekan wartawan, mereka menyuruh saya untuk menggunakan id wartawan saja, karena segala urusan pasti beres, tidak perlu lama menunggu, tidak perlu tes-tes an segala, segala urusan beres dan saya tidak harus mengeluarkan duit2 banyak, yaaah hanya bayar sesuai peraturan saja...

Dan berangkatlah saya pagi itu dengan semangat.
naik-turun angkot tiga kali, sampailah saya di polres tangerang.
berkat denah dan petunjuk yang hampir-mendekati-akurat saya tidak mendapat kesulitan untuk menemukan tempat pengurusan sim.

namun, sebelum masuk, saya merasa ada yang aneh, tempat itu sangat lengang, dan tidak ada satu pun calo yang menawarkan jasanya ketika saya masuk. Mmmmm...
saya mendekati loket pendaftaran, belum juga saya mengeluarkan id wartawan, tiba2 polisi yang berpakaian putih itu bertanya, "mbak udah periksa kesehatan belum?"
"Belum pak," jawab saya.
langsung dia menyuruh saya untuk pergi memeriksakan diri saya di klinik terdekat, yang ternyata berada di luar area wilayah kantor polres...

Aneh benar! tapi saya langsung disana, menghadapi dokter tersebut, yang saya tahu persis adalah dokter gadungan. dia menyuruh saya untuk menggerak-gerakkan tangan, menggerak-gerakkan kaki (sumpah saya merasa bodoh sekali) dan dia langsung menulis sesuatu di kertas biru dan menyerahkan kepada saya, sambil meminta, "mmm...40rb mbak"...duuuuh, saya, yang merasa seperti tersihir, pun segera menyerahkan duit itu, dan mendapati dikertas biru tersebut bahwa dokter gadungan itu juga menuliskan tekanan darah saya, meski dia sama sekali tidak memeriksanya....

masih terheran-heran dengan apa yang baru terjadi, aku pun kembali ke tempat pengurusan sim, mencoba menenangkan diri bahwa sebentar lagi aku dapat sim.

Kembali ke loket pendaftaran, dengan pd-nya saya pun menngajukan pembuatan dua sim sekaligus sim a dan sim c, plus melampirkan kertas biru sakti dari dokter gabunganitu...dan tentu saja tak lupa menyertakan fotokopi id press saya.

"pak, saya bisa dibantu kan?" saya harus liputan lagi," ujarku, merangkai kata-kata sperti anjuran teman2 wartawanku.

"maaf mbak, semua harus mengikuti aturan, mbak tunggu saja kita akan proses sesuai prosedur," petugas yang bernama pak riyanto itu menjawab tegas.

Sebentar ada yang ga beres niih, aku melihat sekeliling dan aku tidak melihat satu calo pun, dan polisi-polisi yang memakai baju putih...

aku pun mendengar seorang polisi yang tetap menolak memberi bantuan kepada sesorang, yang mengaku adiknya seorang komandan. aku pun melihat seorang petugas gagal membantu adikknya yang diantarnya untuk dapat sim.

dan ya... mimpi saya itu jadi kenyataan.

tapi entah saya merasa sangat tidak nyaman dengan semua ini.

karena saya pun akhirnya harus mengikuti semua prosedur yang ada, menunggu berjam-jam, mengikuti tes-tes yang ada --tes teori dan tes praktek...

dan seperti kebanyakan semua orang, saya pun gagal, meski berhasil lolos dari tes teori....dan hilang kesempatan untuk mendapatkan sim hari itu, aku harus balik ke sana seminggu lagi untuk ujian ulang...

berjalan lunglai, seorang perempuan yang juga gagal ujian sim, pun membisikkan padaku, "Eh tahu ga kenapa jadi begini, katanya sekarang lagi pemutihan, sebab kapolres (kepala polisi) nya baru. tempat ini termasuk yang punya citra buruk karena banyak sekali calo. tapi katanya sih cuma sementara, bulan depan udah kayak biasanya kok..kita ajah yang apes nih, mbak!"

dan aku hanya bisa tersenyum miris. aaaaaarggg, aku pasti mimpi buruk

                            

Berguna bagi nusa dan bangsa

Berguna bagi nusa dan bangsa.

Ingat kan kalimat legendaris tersebut, yang seringkali diucapkan kala kita kecil setiap saat  ditanya, apa cita-citanya? Hehehhe, jawaban yang sangat aman, dan efektif, karena langsung membuat si penanya terdiam, mengangguk atau terharu bahagia, sambil berkata, “wah anak pinter,”

Aaah, jawaban aman yang susah sekali untuk dilakukan.

Seorang teman dekatku, winta yang pertama kali membuatku sadar bahwa melaksanakan kalimat itu bukan hal yang mudah.

Mmm…berguna bagi nusa bangsa? Apa yang bisa dilakukan yah...Membayar pajak? Jadi dokter? Atau PNS? Jadi menteri? Atau presiden…

mmm..sepertiny bukan itu semua deeehGila bener-bener blank otak ini…

Dan Winta pun punya kegelisahan yang sama, apa yang bakal dilakukannya untuk berguna bagi nusa dan bangsa.

Aku pun juga merasa sama, aku merasa bahkan belum berguna bagi keluargaku, aku belum melakukan apa-apa untuk suamiku, buat orang tuaku..aku juga belum memberikan hal bermanfaat buat orang-orang disekitarku…

Apalagi buat nusa dan bangsa yah….

Tapi mungkin kita harus mulai dari yang kecil-kecil dahulu...

Menyempatkan waktu lebih banyak dengan suami, sering bercengkrama dengan keluarga, bekerja dengan baik, menulis lebih baik lagi, membaca lebih banyak, mengajari anak-anak lain, berbagi ilmu...

Aah, andai ada alat yang bisa membantuku untuk mewujudkan itu semua...
Tentu saja bukan kantong ajaib atau tongkat ajaib...

Dan mungkin berguna bagi nusa dan bangsa, bukan jadi hal yang susah untuk dilakukan...

Sebuah alat yang bisa membuatku menulis dimana saja, tanpa harus balik lagi ke kantor ketika habis liputan,
Yang bisa membuatku selalu berkomunikasi dengan teman-temanku, dan kerabatku yang jauh
Yang bisa membuatku selalu ter-update dengan berita-berita terkini
Yang bisa melakukan semua diatas tanpa harus merepotkanku dengan ukuran besarnya...

Yeah, that’s why i want eee pc :)

 

  

Pulang kerumah

Kemarin untuk pertama kalinya, aku naik bis dari kantor ke rumahsenyumpagi.

perjalanan yang melelahkan!

biasanya aku tinggal menunggu jemputan si ojek cinta untuk pulang kerumah, tapi tidak kemarin...
aku sengaja ingin mencoba berkendaraan umum...

Ruteku, Palmerah-Lebak Bulus lalu Lebak Bulus- Cinangka
tapi si ojek cinta menyediakan dirinya untuk menjemput diriku di Lebak Bulus, kami menyebutnya "di tengah" (kami mengutipnya dari rute sebelumnya Palmerah - Ciledug (rumah bapak ibuku dan kos ojek cinta, "tengah"nya di daerah arteri Kebayoran Lama, dekat kantor Indo Pos)

Pulang dari kantor sedikit awal, aku pun menyeberang rel palmerah...menunggu bis 86 jurusan kota-lebak bulus...dan busyet penuh banget. Sudah tiga bis aku tolak karena kepenuhan, dan bayang-bayang copet selalu menempel di kepala.
Ngobrol dengan calon penumpang lainnya di halte, mereka rata-rata juga punya pengalaman yang sama, dicopet!! waduuuh...
dan akhirnya untung seorang mbak memberi tahu bahwa ada alternatif jalur bis lain yang menuju lebak bulus, selain naik kopaja 86..tapi aku harus berjalanke hotel mulia...

aah tidak masalah, rute itu sudah sering kulewati...
dan berjalanlah aku kesana...
memang benar ada bis kopaja 615 yang cukup kosong, aku pun melihat tulisan di depan Tanah Abang -Lebak bulus

Yippi..bis pun melaju...
perjalanan yang panjaaaang, orang sudah naik turun, dari yang kosong, jadi penuh kemudian sangat sesak hingga berangsur-angsur kosong..
keringat pun bercucuran, karena panasnya malam itu...
duh, kenapa tidak sampai-sampai yaaah

setibanya dilebak bulus, lalulaintas masih saja padat, kendaraan-kendaaran masih merayap di sana...dan dengan susah payah aku pun mendapatimu di ujung jalan...

cape sayang, capek banget...
tapi dalam perjalanan dari Lebak Bulus ke Cinangka..
pikiranku pun melayang kerumahsenyumpagi..
membayangkan kesunyian yang ada disana
mendengarkan jangkrik-jangkrik yang tidak pernah berhenti bernyanyi sepanjang malam
mellihat bintang-bintang yang masih setia di langit
menjumpai kodok depan rumah
menemukan sofa oren nyaman kita
tempat tidur dengan sprei merah kado dari mbahmu
dinding bercerita kita dengan frame-frame foto-foto bahagia
dapur terbukaku
tempe tepung buatan sendiri lengkap dengan sambel koreknya
dan...

kamu yang selalu menemani hari-hariku disana

Sayang, hilanglah segala capek dan penat...

dan aku selalu ingin pulang...

belajar yuks

Ugh, saya kesulitan mengingat kapan terakhir kali saya belajar..iyah, belajar dalam artian merapal  rumus-rumus, mengingat teori-teori lekat-lekat di kepala demi sebuah nilai yang membuat orang tua tersenyum

Sungguh proses yang sayang benci..

Klimaksnya terjadi waktu SMA..menajdi murid SMA teladan di daerah Bulungan bukan hal yang menyenangkan ternyata..belajar, belajar dan belajar. Hidup hanya masalah dapat nilai bagus atau ga, masuk IPA atau IPS..huh!

Hingga kemarin, saya baru tahu ada cara lain memandang proses belajar.
danbelajar bukan lagi masalah nilai bagus dan hapalan teks book

Thanks to my life partner, suamiku.
Dia mengaku bahwa dia selalu belajar dan tak pernah berhenti belajar. Barusan kemarin dia belajar tentang materi yang akan diajarnya di kelas animasi yang dibimbingnya, (istilahnya Combution, tapi setengah mampus dia berusaha menerangkan apa itu aku tetap tidak mengerti hihihihi)
Dengan bijak, dia mengatakan bahwa yang menentukan orang jadi murid atau guru adalah hanya masalah tahu lebih dulu atau tidak...oooow, gitu yaah!

Darinya aku mengerti, bahwa setiap saat adalah belajar
ketika mengerjakan proyek, dia belajar (aku ingat waktu dirinya belajar dengan sungguh membuat tekstur rumput demi sebuah pesanan iklan, dan dia begitu puas dengan hasilnya)
ketika main game (kosa kata bahasa inggrisnya lebih kaya dariku..dan ini gara2 game)
ketika menonton film dokumenter dan membaca national geographic (dan dia punya jawaban-jawaban ilmiah yang kusuka tentang hal2 yang tidak kuketahui)

Harusnya aku pun bisa melakukannya
belajar ketika mengerjakan artikelku, setidaknya aku bisa mempelajari kata-kata baru
belajar ketika membaca novel di dalam perjalanan-perjalananku..
belajar ketika mewawancarai orang...
belajar ketika menunggu bis
aiiih jadi ingat lagunya Alanis yang "You Learn"...iyah yang seperti itu...

dan aku tahu tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar
Dua minggu ini, aku baru saja ikut kursus menyetir di dekat rumah bapak-ibuku. di Ciledug
proses yang menyenangkan meski tidak mudah...
Aku sangat bersemangat karena akhirnya aku bisa mewujudkan resolusiku tahun lalu sebentar lagi: punya Sim A...yipppi!
"Gak terlambat tuh Ka?"
Sepertinya tidak, apa bedanya aku punya SIM A waktu berumur 17 tahun, dengan aku berumur 26 tahun, atua 35 tahun atau 50 tahun? sepertinya bukan perbedaan yang essensial.
Ini masalah keinginan dan kemauan. Keinginan untuk meningkatkan kualitas diri dan juga kemandirian tentunya.

Belajar juga proses yang tidak pernah berhenti.
Kemarin aku berdiskusi dengan Reva, rekan wartawanku tentang proses belajar seorang wartawan. Kami sepakat bahwa profesi kami menuntut kami untuk setiap saat mau belajar. Belajar istilah-istilah baru, belajar memahami masalah, belajar memetakan pendapat, belajar beradaptasi dengan lingkungan baru ketika menghadapi tempat baru bahkan saat rolling satu tahunan ke desk lain.
Kemarin ketika mengajak seorang wartwan senior untuk ikutan belajar nyetir mobil, dia pun mencibir, "Ngapain, kan gak punya mobil?"
Aku pun menjawab, "bukan itu saja mas, kalo misalnya kita ditugaskan liputan kesuatu tempat dan tidak dan kendaraan lain selain mobil, dan tidak ada orang lain, apa yang akan kamu lakukan?"
Dia pun terdiam, mengangguk, "O gituuu."

Tapi menurutku semua orang harus mau belajar, bukan hanya wartawan saja. Karena yah itu tadi, belajar untuk meningkatkan kualitas hidup!.

Dan aku punya daftar panjang tentang apa yang harus kupelajari berikutnya, belajar diving, belajar bahasa asing selain inggris, belajar memasak, belajar menulis, belajar bersabar, belajar lebih mendengarkan orang lain, ....