apa yang sebaiknya dilakukan jika terjebak banjir?
mmm...gimana kalau menikmati suasana Jakarta yang lebih ramah?
tentu itu lebih menyenangkan, ketimbang menggerutu, mengumpat-umpat, dan marah-marah sementara hujan tidak berhenti turun juga...
percaya deh, itu yang saya lakukan kemarin, ketika (lagi-lagi) Jakarta dilanda banjir.
Berangkat (sengaja) siang, saya merasa tidak ada masalah melewati rute, Ciledug Jalan Sudirman..karena kurang dari satu jam saya akhirnya bisa sampai di bunderan HI.
Keadaan tak terduga menanti kendaraan disana, karena Sarinah diberitakan banjir...mmm, dengan sigap sopir bis patas ac 44, yang saya naiki, membelok ke arah Sutan Syahrir, berharap bisa menghindari rute lain.
Dan memang tidak ada yang mudah di Jakarta, ketika sampai di jalan Sutan Syahrir, jalan sudah penuh sesak dengan mobil yang berderet-deret.
Sopir bis nya pun semakin blingsatan mencari jalur-jalur alternatif lain, belok kiri, belok kanan, belok kanan lagi, putar balik...membuat penumpang bingung, kemana si abang sopir membawa mereka.
Bis yang biasanya dipenuhi kebisuan, dengan penumpang yang acuh sama laiinya, tiba-tiba ramai.
"Wah pak, kita mau dibawa ke mana nih," ujar seorang cewek yang duduk bersebelahan dengan bapak tua.
"Wah, mbak turun dimana?" tanya bapak tua itu balik..lalu terciptalah sebuah pembicaraan yang akrab
Bahkan kenek bis, yang biasanya sangat jutek sama saya, yang suka protes karena diperlakukan semena-mena, tiba-tiba bertanya, " mbaknya turun mana, yah?
sedikit tidak percaya, saya pun menjawab, "menteri esdm, eh bank bi, bang."
Hujan yang tiada henti, membuat bis tidak bisa melewati jalur thamrin, akhirnya mau gak mau mereka membawa penumpangnya melawati cikini dan akhirnya lewat tugu tani,daripada kebablasan saya pun memilih turun.
Waktu itu saya berpikir, dari pada kembali ke esdm, lebih baik ke pertamina saja, lagian kan wartawan lain sudah janjian disana.
Dan dimulailah petualangan seru melewati kubangan-kubangan air di sepanjang jalan dari tugu tani ke pertamina.
Saya berjalan sangat hati-hati, mengecek berapa kedalaman air, mengangkat tinggi-tinggi celana saya...bertanya dana memastikan ke bapak-bapak satpam, "dalam ga pak airnya,"
sepanjang perjalanan, saya tak henti2nya marah-marah dan merutuk, tapi sepanjang perjalanan saya merasa aneh sendiri..saya melihat sekeliling, banyak orang yang sangat menikmati keadaan ini...
segerombolan anak-anak perempuan yang baru pulang sekolah, bercanda tiada henti, anak-anak kecil juga tertawa begitu lepas, bermain di arus jalan yang lengang, beberapa anak muda, tak hentinya menggoda semua orang yang melewati jalan itu.. yah termasuk saya juga digodanya...
sempet sebel bukan kepalang, tapi waktu saya akhirnya terjatuh di kubangan dekat stasiun gambir, saya tidak bisa apa-apa...saya ikut tertawa bersama mereka,,menyadari betapa konyolnya hujan ini, banjir ini, jakarta saya dan jakarta mereka...
dengan semangat saya pun melanjutkan perjalanan. dan di penyeberangan jalan, saya bertemu serombongan bapak-bapak yang baru pulang dari sholat jumat, berjalan bersama mereka, tanpa sengaja sayalah memimpin rombongan (mungkin karena saya yang paling basah). Waktu menyeberang jalan pun, saya yang menghentikan kendaraan2 ituw...hingga salah seorang dari mereka berkata, "ayo mbak, distop kendaraannya,"
dan sumpah, waktu itu aku tertawa!