Aku punya Mbah Basri
berita itu datang tiba, tepat tengah malam...
aku mencoba tak terbangun, berusaha menutup mata ini rapat-rapat dan kemudian kembali tidur. Tapi kau terus dan terus berbicara di telpon, mengusik rasa kantukku.
"Mbah meninggal" ujarmu seketika setelah menutup telpon
Mataku langsung melek dan hilang semua kantuk.
Aku diam. Kamu diam.
Sesaat.
Aah, mbah Basri..baru siang tadi aku memikirkanmu. sebuah bungkus permen Fisherman's Friends berwarna kuning mengingatkanku padamu. Iyah, aku berjanji membawakanmu sekantong permen pedas itu untukmu. Aku berniat membawanya ketika aku berkunjung ke Jawa Timur nanti, membawakannya khusus untukmu, sebagai pereda serangan batuk mu yang tidak berkesudahan.
Kelik sudah cerita bahwa dirimu terkena serangan batuk parah, dan terkadang sering tidak berhenti.
Dan aku pun lumayan terkejut, ketika kamu bilang, "aah, obatnya gampang kok...tinggal ngemut permen doang"
Aah, seharusnya aku kesana, mengunjungimu kemarin ketika aku sedang di Jogja, tapi typus brengsek ini belum mau pergi juga dari tubuhku. Maafkan aku mbah, karena tidak bisa melihat tempat yang kau sebut rumah.
Katamu, suasana daerah rumahmu tidak jauh beda dengan rumahsenyumpagi aku dan Kelik. Belum banyak rumah, di sekitarnya masih banyak kebun dan tentunya nyamuk-nyamuk...uh, penasaran sekali aku ingin melihat kebun anggurmu dan juga kelambu yang kau punya di tempat tidur.
"Pasang saja kelambu di tempat tidur biar tidak ada nyamuk," katamu ketika berkunjung ke rumahsenyumpagi. Aku tak tahu kenapa kenapa dirimu waktu itu berkeras ingin datang ke Jakarta dan mengunjungi rumahsenyumpagi. Tapi aku bisa merasakan, dan dari senyummu, aku tahu kamu pasti bahagia, begitu bangga akan Kelik, cucu kesayanganmu.
Dan aku pun senang, akhirnya aku merasakan punya kakek, sosok yang selama ini tidak kutemui dalam hidupku, karena kedua mbah putriku sudah ditinggal mati oleh mbah kakung begitu aku lahir.
Aku jadi tahu rasanya punya kakek waktu itu, melihatmu pagi hari dengan semangat berusaha memperbaiki pompa air di rumah kami. Kamu, kelik dan om berpeluh keringat dan kotoran tanah, demi air untuk rumahsenyumpagi.
Aku senang sekali waktu itu, melihatmu bekerja, menampikkan serangan batuk yang tiba-tiba. Aku mencoba membantumu berkali-kali. Tapi kamu selalu bilang, "sudah jangan, nanti kotor," katamu.
Maaf, aku tidak bisa mengantarmu ke tempat peristirahatanmu terakhir, Mbah.
aku hanya bisa menitipkan salam lewat Kelik. Salam yang paling manis buat seorang Kakek dari cucunya.
Aku janji lain kali kita ketemu, aku akan bawakanmu permen itu. Janji.

udah kutitipkan salam mu buat simbah, sayang....
kita bisa mengunjunginya kelak...
besok kita kesana yah.
:`)
Posted by: Kelik | April 4, 2008 01:45 AM