Saya berumur 26 tahun. Saya masih naif.
Saya berumur 26 tahun. dan saya baru sadar kalo saya masih naif.
Jadi begini ceritanya:
suatu ketika saya diajak ketemuan makan siang dengan seorang presiden direktur perusahaan minyak luar negeri. entah kenapa, saya juga tidak tahu maksud undangannya, yang jelas dia niat sekali mengundang saya. undangan pertama saya terima waktu saya masih sakit typus, dan yah saya hiraukan begitu saja, sedang tidak ingin berurusan dengan hal-hal berbau energi ketika itu. Dengan sopan, saya katakan ke sekretarisnya kalo saya sedang sakit dan tidak mau diganggu.
Setelah beberapa lama, dan saya kembali lagi bekerja, sebuah sms masuk ketika saya sedang makan malam dengan sang suami,
ternyata sms datang dari presiden direktur itu
"Halo, Ika..sudah sembuh yah? saya sudah lihat beberapa tulisannya muncul di koran beberapa hari ini."
dan terlibatlah saya dalam pembicaraan basa-basi..yah demi menjaga hubungan baik antara wartawan dan nara sumbernya laaaah....
besok paginya, sekretarisnya langsung menelepon, memastikan jadwal makan siang...huh, bukan sombong, tapi jadwal wartawan mana bisa ditebak, bisa saja tiba-tiba disuruh kesini disuruh kesana...
ketika saya tanya apa maksud undangan makan siang itu, mba nur, sang sekretaris itu menjawab," wah, andai saya tahu mba..."
mmm, aneh juga sih..karena setahunya jika perusahaan itu mengundang, saya pasti berhubungan dengan yang namanya mba fathia, yang saya kenal dengannya karena dia yang membantu urusan saya pergi ke Shanghai beberapa waktu itu atas undangan perusahaan yang bersangkutan.
tapi dugaan saya waktu itu, wah pasti ada berita besar nih, karena saya tahu bahwa rekan saya di Bisnis Indonesia juga diundang...ada kabar seru apa nih.
dan hari janjian makan siang itu tiba...kami diajak makan siang ke coffee shop di Grand Hyatt.
Ak dan Rudi, wartawan Bisnis Indonesia, tergopoh-gopoh lari dari tempat liputan di daerah kapten tendean untuk mengejar bapak presiden direktur yang menurut sang sekretaris sudah duduk manis di dekat jendela...
dan sampailah kami disana...
tidak ada pembicaraan penting.
semuanya hanya basi-basi.
berbicara masalah kondisi politik sekarang.
siapa nanti calon presiden.
pengganti menko boediono
pemetaan kekuatan politik menjelang kampanye presiden 2009, yang aku hanya bisa menertawakannya, karena yah aku sama sekali malas dengan hal-hal seperti itu...
hanya makan siang tanpa juntrungan, dan parahnya kami tidak dapat berita karena sang bapak tidak mau berkomentar apapun tentang perusahaannya. Ya ampun jadi cuma makan siang nih, makan siang gratis satu jam.
Tapi itu pikirku.
dalam perjalanan pulang, Rudi bilang bahwa si bapak punya agenda, dia pengin tahu informasi yang kami ketahui tentang peta politik di Indonesia. Rudi menyebutnya, antek barat, yang ingin tahu peta di Indonesia.
Pertanyaan-pertanyaannya menuju kesana, ucap Rudi, bahkan pertanyaan terakhirnya ttg siapa pengganti menko, yang memang kandidat terkuatnya si Purnomo, mentri esdm yang sekarang. sebelum akhirnya dia buru-buru pamit untuk live-tele conference
"dan abis itu, dia pasti bertanya, siapa menteri esdm yang baru," kata Rudi dengan penuh percaya diri.
Busyet. kok aku ga sadar yaah. Polos banget banget aku. Naif sekali.
begitu bertemu teman liputanku satu lagi, si Alih, yang usianya jauh lebih muda dari aku, dia pun membeberkan semua hal. kalo bapak presiden direktur itu punya hubungan sama Tanri Abeng, yang diisukan jadi menko, dan dia juga punya hubungan dekat dengan si Sofyan Djalil. Ckckckckck.
Kok saya bisa gak tahu yah?
menyadari itu, saya hanya bisa tersenyum lebar. iyah, saya memang naif, tapi saya bahagia kok...

Comments