« April 2008 | Main | June 2008 »

Ciledug-Cinangka-Kuningan..

Pagi yang bodoh.

Aku baru sadar bahwa pasporku ketinggalan di rumahsenyumpagi, padahal pagi itu aku berada di rumah bapak ibu di Ciledug, karena malam sebelumnya aku dan kelik memutuskan menginap disana supaya besok paginya bisa berangkat pagi-pagi untuk mengurus visa di kedutaan.

panik panik panik.

dan ojek cinta pun berkeberatan untuk mengantarkanku karena proyek iklannya yang dikejar deadline.

Dan harapanku cuma kamu: abang-abang ojek.

mmm...lalu terbayang di otakku, berapa yah ongkosnya untuk perjalanan dari Ciledug-Cinangka-Kuningan...Rp 50,000, Rp 70,000...mmm ga kebayang.

tapi aku ga punya pilihan.

Berapapun pasti aku bayar, karena aku dikejar waktuu...

berpikir kemudian, bahwa ketika aku memilih ojek pasti memang pertimbangan utamaku adalah waktu. ojek bisa secepat kilat membawaku menuju tempat tujuan (meski pernah juga aku membonceng tukang ojek yang lelet). Tapi tetap, jika ingin berkelat-kelit menghindari kemacetan Jakarta dengan lincahnya, ojek adalah jawabannya.

Pernah ada seorang wartawan dari Singapura yang bertanya padaku, sebenarnya tarif ojek berapa sih?  hihihihi, cukup bingung  juga siih, gimana yaah 
selama ini aku membayar dengan beberapa pertimbangan, pertama tentu saja pertimbangan jaraknya, kemudian bagaimana tukang ojek membawa kendaraannya, kan ada tuuh yang serampangan ngebut begitu saja, kemudian seberapa lincah dia menghindari kemacetan, seberapa kreatifnya dia menemukan jalur2 kreatif, seberapa ramahnya dia, bau badan dan helm yang menjadi fasilitas juga jadi pertimbanganku...

Tapi saranku jangan menawar kalo mau naik ojek, langsung ajah mbonceng di belakangnya, seolah-olah kamu sudah terbiasa naik ojek dan tahu ongkos sebenarnya, karena kalo gak, mereka pasti dengan sengaja menawarkan tarif yang tinggi, apalagi tahu kalo penumpangnya orang asing.

Kembali ke rute Ciledug-Cinangka-Kuningan, aku pun berhasil mendapatkan ojek depan gang, namun sayangnya dia hanya mau mengantarku Ciledug-Cinangka-Lebak Bulus dengan alasan rute yang ditawarkan sangat jauuh...

Yah begitulah, demi waktu yang terus mengejaar, aku pun naik..tapi nampaknya tukang ojeknya kurang canggih, memilih rute yang macet dan akhirnya memilih untuk putar balik... huhuhuhuhu, keburu ga yah sampe ke kedutaan, cemasku dalam hati.

Namun akhirnya sampai juga, dengan beberapa kriteria penilainan yang kucatat selama perjalanan, aku pun menyodorkan Rp 30,000 kepadanya, yang kemudian ditolak tukang ojek nya habis2an

"Rp 50,000 neng, ke lebak bulus ajah udah Rp 30,000," ujarnya memelas.

Dan aku pun tidak bisa menolak, karena meskipun lambat dan cara membawa motornya yang hancur (karena setiap lewat polisi tidur pasti aku terpelanting diatas jok motor belakang) aku pun membayar sesuai dengan yang diminta.

Waktu memang tidak ada hargaku, pikiriku bijak.

Beralih ke tukang ojek kedua, yang siap mengantarkanku dari Lebak Bulus ke Kuningan, aku sudah tahu sepertinya tukang ojek ini sangat berpengalaman, melihat dari kostumnya, helmnya...

dan benar, teman....

dia membawaku secepat kilat...bussyeeet, benar-benar kaya pembalap.
ngebut tiada tara, dan tidak pernah berhenti sedikitpun waktu macet, selalu berusaha mencari celah-celah yang memungkinkan, dan juga lincah mencari jalur-jalur alternatif.

Dan sempat-sempatnya dia mengajak ngobrol diriku dengan ramahnya.

Wah, kalo ada pemilihan tukang ojek terbaik di Jakarta, pasti bakal ku nominasikan dia untuk jadi pemenangnya.

Dan ajaib, setengah jam dari lebak bulus aku pun sampe di kedutaan yang kutuju di didaerah Kuningan, padahal pagi itu jalan lumayan macet...

Ckckkckckck...

Menutupi rasa kagumku, akun pun kali ini bertanya pada abang ojek itu," berapa bang ongkosnya?"

"Rp 40,000,"

dan aku tahu itu harga yang pantas untuknya.

Good quality comes with Good price, i believe that.

                            

Cukup saja cukup

"Aku pengin kaya," ujar sahabat baikku, Odit, ketika kami sedang makan siang di warung sebelah kantor.

Sebenarnya bukan sekali aku mendengar keinginan odit, tapi saat itu keinginannya menggugah keingintahuanku.

"Kenapa kamu ingin kaya, Odit?" tanyaku.

Pertanyaan bodoh, siapa yang tidak ingin kaya tentunya. Semua orang pasti kebanyakan jika ditanya mau kaya atau enggak, pasti dengan pasti mereka menjawab enggak.

Tapi aku tidak. Menurutku hidup kaya itu melelahkan, bukan artinya cape menghabiskan duit yang banyak itu..tapi yah cape ajah membayangkan menjadi seseorang yang kaya raya dibanding ketika menjadi orang melarat. Ketika miskin, pasti hanya satu atau dua atau paling tidak, tidak akan lebih dari tiga hal yang dipikirkan, makan, makan, dan makan (bertahan hidup). tapi jika kaya raya? waduuuh..mulai dari liburan mewah, peralatan teknologi terkini, perawatan tubuh, mobil mwah, rumah lux dan perabotannya, iyah perasaan tak pernah cukup itu belum lagi perasaan aman (secure)..capek aaah

"Cukup saja itu cukup, sayang" ujar suamiku, ketika aku mencoba berdiskusi dengannya disuatu malam.

Iyah, aku setuju denganmu, sayang.

Kami berdua memang bukan dari keluarga kaya. sama-sama anak dari pegawai negeri sipil yang kehidupannya yaah pas-pas saja, sedang-sedang saja laah.
Beruntung sekali, kami sekarang bisa hidup lebih dari cukup saat ini, punya rumah sendiri, kendaraan sendiri, bisa makan kenyang setiap hari. Iyah cukup. aku rasa itu cukup.

"Gw ga pengin hidup melarat, Ka," ujar odit menjelaskan alasan kenapa dia ingin jadi kaya.

"Tapi sekarang hidup kita kan juga ga melarat-larat amat kali dit," jawabku.

"Iyah gw pengin bisa beli buku,"

"Sekarang kita juga masih bisa beli buku,"

"Kalo gitu gw pengin bisa beli buku lebih dari satu,"

Aku tertawa.

"Gw pengin beli buku banyak tanpa harus pusing, pengin liburan ke luar negeri tanpa harus pusing, pengin supaya anak gw besok gw usah pusing kalo nyari sekolah yang bagus"

Mmm...pernyataan odit yang terakhir membuatku berpikir. Mungkin benar kata odit, menjadi kaya itu penting, apalagi kalo punya anak. karena menurutku dia dilahirkan kedunia ini untuk menjalani hidup yang lebih baik dari kedua orang tuanya.

tapi untuk sementara. cukup saja cukup