setelah kebebasan berpendapat dan mengeluarkan pikiran dan lalu kebebasan berekspresi, saya mengusulkan satu hal lagi yang menurut saya tak kalah pentingnya: kebebasan perpakaian.

Penting karena pakaian adalah salah satu cara bagaimana orang bisa berekspresi.

Kemarin saya baru saja dapat undangan, yang didalamnya tertulis, pakaian: PDH. Nah lo bertanya-tanya apa kira2 PDH itu, dan editorku pun dengan lekas menjawab: Pakaian Dinas Harian.

Yah ampun, hari geneee…

Aku mendapatkan hak kebebasan berpakaian  baru-baru saja, setelah aku bekerja dan lepas dari tanggung jawab bapakku. Iyah, saya berhasil mendapatkan kebebasan itu darinya, setelah sekian lama dia selalu mengomentari caraku berpakaian, yang memang selera sedikit berbeda dengan orang lain. Saya tidak bisa menolak, ketika dia berkomentar, "Janga pake itu ga sopan,", "Mbok diganti bajunya, mosok pake pakaian kayak gitu," "Itu terlalu terbuka, ganti sana bajunya,"

Dia tidak pernah bertanya apakah aku nyaman atau tidak.

Tapi aku sudah lama menutup kupingku pada orang-orang seperti itu. Sebenarnya aku masih belajar untuk itu, untuk lebih mengutamakan rasa nyamanku ketimbang omongan orang-orang.

Belajar untuk membela hak-hak ku untuk berpakaian senyamanku.

Suatu ketika aku pernah mendamprat kakak kelasku, yang mengomentari caraku berpakaian.

Kudatangi dia, "Emang ga ada kerjaan lain, Mas? mbok urus urusan situ ketimbang ngurusin orang lain," Aku pun pergi.

Wuah, rasanya puas.

Tentu saja, aku tidak bisa melakukan hal itu pada bapakku. Aku lebih memilih menutup kuping ini, tidak ngomong satu patah katapun, dan tetap memilih memakai pakaian yang dia komentarin. Kupikir sekarang ini dia tahu bahwa dia tidak akan pernah menang di pertarungan ini.

Dan untuk tukang ojek depan kantor, yang  sangat perhatian  dengan caraku berpakaian? aku punya cara jitu.

Suatu ketika ojek langgananku mendekati dan berbisik, "neng, itunya kebuka tuh,"
aku pun menjawab, "emang begini bang modelnya," dan meninggalnya yang nampak bingung dan malu.

Please, mind on your business!

4 Responses to “kebebasan berpakaian”
  1. sante aja sayangkuu
    kamu kan terlahir dengan ari ari membelit dibadanmu,
    semua pakaian pasti cocok
    hehehehehe
    selama kamu nyaman ajah yaahh…

  2. kalo di us aku lebih cuek, gak ada yang melototin atau nyolek :p

    di jkt, pake pakaian kantor aja teteuup diisengin :(

  3. kapan yah aku bisa ke us yaah?

  4. aaaah kan sudah ke barcelona, ke shanghai, ke jerman, keliling eropa… paling sebentar lagi juga ke usa. *iri dengki hati, hihihi*

Leave a Reply